Pranala.co, BONTANG – Suasana hangat terasa di aula SMP Negeri 8 Bontang, Kamis (2/10) pagi. Puluhan orangtua siswa kelas 7 dan 8 duduk rapi, menyimak materi Parenting Skill yang digelar sekolah bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Bontang.
Hadir sebagai pembicara, konselor remaja Elisa Irmawati. Ia mengupas tuntas tantangan pola asuh di era digital.
Elisa membuka sesi dengan mengingatkan bahwa anak usia 14–15 tahun berada pada fase remaja awal yang penuh gejolak. Generasi ini tumbuh berdampingan dengan teknologi.
“Di usia ini, gadget menjadi tantangan terbesar. Anak bisa menghabiskan waktu di dunia maya, bahkan menjadikannya pelarian ketika menghadapi masalah,” ujar Elisa.
Menurutnya, kunci pengasuhan ada pada kelekatan orang tua dan anak. Kehadiran orang tua secara utuh membuat anak merasa aman, sehingga tidak mencari pelarian pada gawai atau konten negatif.
“Orang tua harus jadi ruang aman. Tempat anak bebas bercerita, menemukan solusi, dan merasa dihargai,” tambahnya.
Pola Asuh Tanpa Kekerasan
Elisa menyinggung masih adanya orang tua yang mendidik dengan kekerasan. Pola ini, katanya, hanya menimbulkan rasa takut sesaat.
“Takut itu tidak bertahan lama. Ketika figur yang ditakuti tidak ada, perilaku salah bisa muncul lagi. Yang dibutuhkan adalah disiplin yang membangun pemahaman,” jelasnya.
Ia menekankan, disiplin harus membuat anak sadar dengan penuh kesadaran mana yang benar dan salah.
Tegas, Bukan Keras
Meski demikian, orang tua tetap perlu bersikap tegas. Tegas bukan berarti kasar, melainkan konsisten pada nilai keluarga namun tetap lembut dalam komunikasi.
“Tegas itu teguh pada pendirian, tapi tetap menghadirkan kehangatan. Inilah yang membuat anak tumbuh dengan karakter kuat,” ungkap Elisa.
Kegiatan Parenting Skill di SMPN 8 Bontang berawal dari kelas healing yang digelar BNNK Bontang. Salah satu peserta yang merupakan guru SMP 8 kemudian terpanggil untuk menghadirkan kelas parenting bagi para orang tua siswa.
Hasilnya, antusiasme tinggi. Banyak orang tua yang berbagi pengalaman, mulai dari cara mengelola waktu penggunaan gawai hingga menjaga komunikasi agar tetap dekat dengan anak.
Pihak sekolah berharap, kegiatan ini bisa menjadi bekal bagi orang tua. Terutama untuk mendampingi anak-anak menghadapi era digital, tanpa kehilangan jati diri, dan tetap berpegang pada nilai keluarga serta spiritual. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami


















