Pranala.co, BONTANG – Peredaran narkotika di kalangan remaja mulai mengkhawatirkan. Tidak hanya orang dewasa, barang haram ini kini menjangkau pelajar SMA dan SMK.
Fakta mengejutkan terungkap setelah sekolah bekerja sama dengan Satuan Reserse Narkoba Polres Bontang melakukan tes urine pada Oktober 2025. Hasilnya, dua pelajar dinyatakan positif menggunakan sabu.
Kedua siswa kemudian diserahkan ke Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Bontang untuk menjalani asesmen dan rehabilitasi.
Kepala BNNK Bontang, Lulyana Ramdhani, menjelaskan tingkat penggunaan kedua remaja berbeda.
“Satu pelajar berada pada kategori sedang hingga berat, satunya ringan hingga sedang,” jelas Lulyana, Rabu (24/11/2025).
Remaja dengan kategori ringan menjalani rehabilitasi rawat jalan di Bontang. Sedangkan yang kategori sedang–berat dirujuk ke Samarinda untuk rawat inap selama sekitar tiga bulan sebelum mengikuti program pasca-rehab.
Menurut Lulyana, pelajar kategori ringan terjerumus karena pengaruh teman. Meski tidak rutin, intensitasnya cukup mengkhawatirkan.
“Dalam pengakuannya, ia terakhir memakai sabu dua hari sebelum tes urine. Sebelumnya juga pernah menggunakannya tahun lalu,” ungkap Lulyana.
Sementara pelajar yang harus dirawat inap memiliki latar belakang keluarga broken home. Kondisi ini membuatnya menjadikan sabu sebagai pelarian.
“Dalam sebulan, ia bisa memakai 4–5 kali. Saat awal rehabilitasi, ia bahkan enggan bertemu ibunya karena merasa kurang diperhatikan,” tambah Lulyana.
Remaja tersebut memilih tinggal bersama neneknya. Kurangnya pengawasan rumah membuatnya lebih rentan terhadap pengaruh buruk.
Meski tengah menjalani rehabilitasi, kedua pelajar tetap bersekolah. Lulyana menekankan pentingnya pendidikan agar masa depan anak tidak terganggu.
“Sekolah tidak boleh menganggap ini aib. Yang rawat jalan tetap bisa belajar seperti biasa, sementara yang rawat inap sementara harus cuti,” jelasnya.
BNNK Bontang mendorong semua sekolah meningkatkan kepedulian terhadap siswanya. Tes urine berkala disebut sebagai langkah pencegahan efektif.
“Sekolah jangan ragu meminta tes urine ke BNN atau Polri. Idealnya dilakukan setiap tahun ajaran baru, termasuk bagi siswa baru,” kata Lulyana.
Selain itu, orang tua perlu mendapat pembinaan rutin agar bisa mendampingi anak dengan lebih baik. Data BNNK Bontang menunjukkan, kasus narkotika pada remaja SMA/SMK sepanjang 2025 banyak dipicu masalah keluarga.
“Faktor keluarga memang paling dominan. Rumah yang tidak nyaman membuat anak mencari pelarian. Sayangnya, sebagian justru terjerumus narkotika,” tegas Lulyana.
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami

















