Pranala.co, SAMARINDA — Operasi pencarian korban kecelakaan perahu ketinting di Sungai Belayan akhirnya berakhir. Tim Search and Rescue (SAR) gabungan menemukan korban terakhir dalam kondisi meninggal dunia.
Korban bernama Arani (58). Ia ditemukan pada hari keempat pencarian, Jumat (16/1/2026). Lokasinya cukup jauh dari titik awal kejadian.
“Korban kami temukan sekitar 27 kilometer dari lokasi kecelakaan,” kata Komandan SAR Kantor Pencarian dan Pertolongan Balikpapan, Nur Ngalim, di Kecamatan Kembang Janggut.
Arani menjadi korban kecelakaan perahu ketinting yang tertabrak kapal Landing Craft Tank (LCT). Peristiwa itu terjadi di Sungai Belayan, wilayah Desa Long Beleh Modang, Kecamatan Kembang Janggut, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Setelah ditemukan, jenazah korban langsung dievakuasi. Tim SAR menyerahkannya kepada pihak keluarga di rumah duka, Desa Long Beleh Modang.
Dalam kejadian tersebut, perahu ketinting membawa dua orang penumpang. Satu korban lainnya, Ilan (21), berhasil selamat. Sementara Arani sempat dinyatakan hilang dan tenggelam.
Proses pencarian berlangsung sejak hari pertama kejadian. Pada hari ketiga, tim menyisir area sejauh kurang lebih 10 kilometer ke arah hilir sungai. Namun hasilnya masih nihil.
“Hingga Kamis sore pencarian belum membuahkan hasil. Operasi sempat dihentikan sementara dan dilanjutkan kembali Jumat pagi pukul 07.00 Wita,” ujar Ngalim.
Memasuki hari keempat, area pencarian diperluas. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil dengan ditemukannya korban terakhir.
Operasi SAR melibatkan banyak unsur. Di antaranya Tim Rescue Kantor SAR Balikpapan, TNI, Polri, BPBD Kutai Kartanegara, Damkarmatan Kota Bangun, aparat Kecamatan Kembang Janggut, Pramuka Peduli, ERT PT Bayan Resources Tbk, relawan gabungan, keluarga korban, serta masyarakat setempat.
Berbagai sarana dikerahkan dalam pencarian. Mulai dari perahu karet, boat Basarnas, speed boat Satpolairud, rescue boat BPBD, hingga perahu ketinting milik warga. Peralatan komunikasi dan medis juga disiagakan.
Selama proses pencarian, tim menghadapi sejumlah kendala. Arus sungai yang deras menjadi tantangan utama. Selain itu, kondisi lingkungan juga berisiko.
“Di sekitar lokasi masih terdapat binatang buas seperti buaya,” ungkap Ngalim.
Dengan ditemukannya seluruh korban, operasi SAR resmi ditutup. Tim SAR mengimbau masyarakat agar lebih waspada saat beraktivitas di sungai, terutama menggunakan perahu kecil di jalur pelayaran kapal besar. (SON)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















