Pranala.co, SAMARINDA – Kasus pengeroyokan yang melibatkan pelajar SMAN 2 Samarinda dan SMK Subulussalam berakhir damai. Polsek Samarinda Kota bersama Bhabinkamtibmas Kelurahan Sidomulyo, Aiptu Teguh Setiawan, berhasil menyelesaikan persoalan itu melalui jalur mediasi alias problem solving.
Peristiwa bermula Kamis (18/9/2025) sore. Seorang siswa SMK Subulussalam berinisial R (15) kerap bercanda dengan memukul temannya F (15) menggunakan buku. Merasa tak nyaman, F menceritakan hal itu kepada temannya, AR (15), siswa SMAN 2 Samarinda.
AR bersama dua rekannya, RS (19) dan RY (15), kemudian menghadang R saat pulang sekolah. Mereka memukulinya dengan tangan kosong hingga kasus itu berbuntut panjang.
Orang tua korban melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Samarinda Kota. Namun, pihak kepolisian memilih langkah persuasif untuk menghindari konflik yang lebih besar.
“Pendekatan problem solving lebih baik agar masalah cepat selesai tanpa menimbulkan dendam,” jelas Aiptu Teguh.
Mediasi pertama dilakukan di Pondok Pesantren IT Subulussalam Jumat (19/9/2025). Dilanjutkan mediasi utama di Aula Kantor Lurah Sidomulyo, Senin (22/9/2025) siang.
Hadir dalam forum tersebut, Plt. Kasi Pemerintahan Kelurahan Sidomulyo Ida Rosanti, Babinsa Sertu Baihaki Ansor, Ketua RT 30 Sabaruddin, serta tokoh masyarakat setempat.
Dalam suasana kekeluargaan, semua pihak sepakat berdamai. Kedua belah pihak berjanji tidak mengulangi perbuatannya dan menandatangani Surat Pernyataan Bersama.
Kapolsek Samarinda Kota, AKP Kadiyo, mengapresiasi langkah cepat Bhabinkamtibmas bersama tokoh masyarakat dalam menyelesaikan kasus ini.
“Penyelesaian melalui problem solving adalah bagian dari upaya Polri menjaga keharmonisan. Sekaligus menanamkan kesadaran kepada generasi muda agar lebih bijak dalam menyelesaikan masalah,” ujarnya. (DIAS)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami















