Pranala.co, BONTANG – Warga Bontang diminta tidak lengah menghadapi ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD). Meski jumlah kasus tahun ini lebih rendah dibanding 2024, sudah ada dua warga yang meninggal akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang, Bahtiar Mabe, menjelaskan status DBD di Bontang belum memenuhi kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB). Hingga September 2025, tercatat ada 152 kasus.
“Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai 558 kasus,” kata Bahtiar, Rabu (17/9/2025).
Menurutnya, penetapan KLB didasarkan pada sejumlah indikator. Antara lain, peningkatan kasus hingga dua kali lipat dari tahun sebelumnya, munculnya kasus kematian baru, angka insidens (IR) di atas rata-rata lima tahun terakhir, serta penyebaran ke wilayah yang sebelumnya tidak pernah melaporkan kasus.
Meski kasus menurun, angka kematian tahun ini justru lebih tinggi dibanding periode yang sama pada 2024. Hal ini menjadi perhatian serius Dinkes.
“Bontang kini memasuki musim hujan. Kondisi ini sangat mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Jadi meskipun belum KLB, kewaspadaan wajib ditingkatkan,” tegas Bahtiar.
Untuk mencegah penularan, Bahtiar mengajak masyarakat melakukan gerakan 3M. Yakni, menguras tempat penampungan air, menutup wadah yang bisa jadi sarang nyamuk, serta memanfaatkan atau mengubur barang bekas yang dapat menampung air hujan.
“Sehebat apa pun upaya pemerintah, tanpa dukungan masyarakat hasilnya tidak akan maksimal. Karena itu, kami mengajak semua pihak berperan aktif dalam pencegahan DBD,” ucap Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang, Bahtiar Mabe. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami

















