Pranala.co, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menegaskan sikap tegas Indonesia dalam isu Palestina. Kepala Negara membuka opsi untuk menarik diri dari keanggotaan Board of Peace (BoP) Gaza apabila lembaga tersebut tidak mampu mewujudkan tujuan utama, yakni perdamaian yang berujung pada kemerdekaan dan kedaulatan Palestina.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menerima perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam dan tokoh-tokoh muslim Indonesia di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa. Pertemuan tersebut dihadiri lebih dari 40 tokoh, termasuk Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis.
Dalam dialog terbuka tersebut, Prabowo menjelaskan alasan Indonesia bergabung dalam Board of Peace—sebuah lembaga internasional yang diprakarsai Presiden Amerika Serikat, Donald Trump Jr—sekaligus mendengarkan pandangan kritis para ulama terkait potensi dan risiko keikutsertaan Indonesia.
KH Cholil Nafis mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo menunjukkan sikap terbuka dan realistis terhadap kritik yang disampaikan. Salah satu poin penting yang ditegaskan Prabowo adalah bahwa Indonesia tidak akan terikat secara mutlak pada setiap keputusan BoP.
“Presiden menyampaikan bahwa Indonesia bisa tidak ikut dalam keputusan Board of Peace jika tidak sejalan dengan pandangan kita. Bahkan, apabila keberadaan Indonesia di dalamnya tidak membawa perubahan apa pun, beliau siap menarik diri,” ujar Cholil mengutip pernyataan Presiden.
Dalam kesempatan itu, MUI menyampaikan kekhawatiran agar keterlibatan Indonesia, khususnya dalam pengiriman pasukan perdamaian, tidak justru berpotensi merugikan perjuangan rakyat Palestina. Cholil menegaskan bahwa perdamaian tanpa kemerdekaan hanyalah ilusi.
“Kami tidak menginginkan perdamaian semu. Rakyat Palestina harus damai sekaligus merdeka, bukan sekadar bebas dari konflik tetapi tetap berada dalam penjajahan,” kata Cholil.
Menanggapi pandangan tersebut, Prabowo kembali menegaskan bahwa posisi Indonesia bersifat prinsipil dan konsisten. Indonesia, kata dia, tidak akan ragu mengambil sikap abstain atau bahkan keluar dari Board of Peace jika arah kebijakan lembaga itu bertentangan dengan kepentingan Palestina.
“Kami akan abstain dan tidak terlibat ketika kebijakannya tidak sesuai. Dan jika kehadiran Indonesia tidak bisa memberi dampak positif, Presiden siap keluar,” tutur Cholil menirukan pernyataan Prabowo saat menjawab pertanyaan media.
Sikap Presiden tersebut dibenarkan Menteri Luar Negeri Sugiono. Ia menegaskan bahwa keikutsertaan Indonesia dalam forum internasional apa pun selalu berada dalam koridor tujuan besar: terciptanya perdamaian yang adil dan berkelanjutan di Palestina.
“Kalau tidak sesuai dengan yang kita kehendaki—yakni perdamaian di Gaza, perdamaian di Palestina secara keseluruhan, dan pada akhirnya kemerdekaan serta kedaulatan Palestina—maka tentu opsi itu terbuka,” ujar Sugiono mengutip Antara. (ANT/RE)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















