Pranala.co, SANGATTA — Harusnya jadi pesta bahagia. Tapi perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Kabupaten Kutai Timur (Kutim) justru menyisakan cerita getir. Bukannya tepuk tangan, yang terdengar justru keluhan. Bukannya senyum gembira, malah hujan protes di media sosial.
Perayaan HUT Kutim sebenarnya disiapkan megah. Dimulai sejak 12 Oktober 2025, rangkaian acara berlangsung hingga 23 Oktober. Ada Expo Kutim 2025, lomba-lomba rakyat, dan hiburan musik dari artis ibu kota.
Pembukaan dimeriahkan Gildcoustic dan Naldy DA7. Sedangkan malam penutupan menghadirkan penyanyi ternama Anji, yang tampil di lapangan helipad, Kompleks Perkantoran Bukit Pelangi, Sangatta Utara.
Tapi sayang, hujan deras mengguyur hampir seluruh Sangatta. Lampu panggung tetap menyala, tapi penonton banyak yang bubar. Hanya segelintir warga bertahan di bawah jas hujan, menatap panggung yang licin.
“Sayang banget, udah nunggu dari sore, malah hujan terus,” keluh seorang warga di kolom komentar akun lokal Cerita Sangattaku.
Kemeriahan belum juga membaik. Pada Sabtu pagi (25/10/2025), ribuan warga tumpah ruah di halaman Kantor Bupati Kutim. Agenda jalan sehat jadi acara penutup perayaan hari jadi ke-26 Kutim.
Pagi itu cerah. Musik aerobik menggema, warga penuh semangat. Kupon undian dibagikan, hadiah besar dijanjikan: uang tunai jutaan rupiah dan satu unit sepeda motor.
Namun kenyataan tak seindah harapan. Banyak peserta justru pulang dengan wajah kecewa. Kekecewaan warga tumpah di media sosial. Di Instagram, akun Cerita Sangattaku kebanjiran komentar pedas.
“Parah banget, acara amburadul. Kupon undian habis, air minum gak ada,” tulis akun @jabaruddin_1717.
“Kita antre panas-panas, gak kebagian kupon juga,” tambah pengguna lain.
“Udah jalan jauh, gak dapat apa-apa. Yang pegang banyak kupon malah bukan peserta,” tulis warganet lainnya.
Bahkan ada peserta yang mengaku orang tua dan anak-anak ikut berjalan jauh tanpa hasil, sementara beberapa oknum diduga menimbun kupon undian.
Panitia Dinilai Kurang Siap
Warga menilai, panitia kurang koordinasi dan minim persiapan. Air minum tidak tersedia, kupon habis di tengah jalan, dan pembagian hadiah tidak teratur.
Beberapa peserta bahkan sempat memprotes langsung kepada panitia di lokasi kegiatan. Mereka menuntut agar acara semacam ini dievaluasi total.
“Tujuan acara ini kan menyenangkan masyarakat, bukan bikin kecewa,” ujar salah satu peserta di lokasi.
HUT seharusnya menjadi momen kebanggaan. Tapi kali ini, pesta rakyat Kutim justru meninggalkan rasa pahit.
Perayaan yang dimaksudkan untuk menumbuhkan semangat kebersamaan dan rasa cinta daerah, berubah menjadi pelajaran tentang pentingnya perencanaan dan empati terhadap masyarakat.
“Semoga tahun depan, panitia lebih siap. Jangan cuma heboh di panggung, tapi lupa kenyamanan warga,” tulis seorang warga di kolom komentar yang mendapat banyak tanda suka. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami















