BONTANG, Pranala.co – Tumpeng dipotong, doa bersama dipanjatkan, dan semangat pengabdian kembali diteguhkan. Begitulah suasana menyelimuti peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-79 Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang, Sabtu (17/5/2025).
Di bawah tema besar “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneduhkan Peradaban”, acara ini menjadi lebih dari sekadar seremoni tahunan.
Ia adalah pengingat akan kekuatan perempuan-perempuan Nahdliyin yang selama hampir delapan dekade konsisten menanamkan nilai-nilai Islam yang moderat, ramah, dan inklusif di tengah masyarakat.
Tampak hadir dalam acara ini sejumlah tokoh. Di antaranya Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni, Ketua NU Bontang Hartono, dan tentu saja Ketua Muslimat NU Kota Bontang Kamiyati. Ketiganya satu suara: Muslimat NU adalah garda terdepan dalam menjaga akhlak, nilai tradisi Islam, serta pilar penting pembangunan sosial di Kota Bontang.
“Ini bukan hanya tentang usia yang ke-79, tapi tentang bagaimana kita menjaga semangat perjuangan para pendahulu,” ucap Kamiyati, Ketua Muslimat NU Kota Bontang, dalam sambutannya.
Ia mengajak seluruh anggota untuk terus memperkuat solidaritas, menjaga ukhuwah Islamiyah, dan tidak pernah lelah berkontribusi untuk keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Kamiyati juga mengapresiasi kiprah para kader Muslimat NU yang selama ini aktif di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi perempuan, hingga pembinaan karakter umat.
‘Kami percaya perempuan Muslimat adalah tulang punggung peradaban Islam yang menyejukkan,” katanya.
Wali Kota Neni Moerniaeni dalam sambutannya tak menyembunyikan rasa bangganya. Ia menyebut Muslimat NU sebagai mitra strategis pemerintah dalam menciptakan masyarakat yang sejahtera dan berkarakter.
“Muslimat NU selalu hadir dalam barisan terdepan kegiatan sosial, pendidikan dan dakwah. Perannya sangat dirasakan masyarakat,” ujar Neni.
Ia juga berharap organisasi ini terus menjadi contoh dalam menjaga nilai toleransi dan gotong royong di tengah keberagaman Kota Bontang.
Sementara itu, Ketua NU Bontang Hartono menyebut Muslimat NU sebagai penjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah. Baginya, para kader Muslimat bukan hanya penggerak kegiatan keagamaan, tapi juga pelindung warisan spiritual dari para kiai dan nyai.
“Mereka bukan sekadar organisasi perempuan, tapi penjaga warisan tradisi Islam yang penuh kasih, damai, dan cinta tanah air,” kata Hartono.
Peringatan Harlah ke-79 ini diisi dengan berbagai kegiatan seperti tausiyah, doa bersama, pemotongan tumpeng, hingga penyerahan bantuan sosial. Semuanya menjadi cermin nilai gotong royong dan kepedulian sosial yang selama ini diusung Muslimat NU.
Lebih dari itu, acara ini menegaskan bahwa Muslimat NU tetap relevan, adaptif, dan berkomitmen untuk terus hadir di tengah umat. Melestarikan tradisi, memberdayakan perempuan, dan menjadi agen perdamaian adalah tiga misi utama yang terus dipegang erat. [RED/DIAS]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami

















