Pranala.co, BONTANG – Di balik pelayanan publik yang tertib dan cepat, ada pekerjaan sunyi yang jarang terlihat. Di ruang-ruang penyimpanan arsip yang tak banyak disinggahi orang, para arsiparis bekerja memastikan setiap dokumen terselamatkan dengan rapi, aman, dan mudah ditemukan.
Salah satunya Hana. Arsiparis dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang itu baru saja mencatat prestasi membanggakan. Pada Selasa (11/11/2025), ia dinobatkan sebagai peringkat ke-8 Arsiparis Teladan se-Kota Bontang. Ajang ini diikuti perwakilan dari 33 Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Hana mengaku tak menyangka bisa melaju sejauh itu. Ia ditunjuk kantornya untuk mengikuti kompetisi tersebut. Prosesnya tidak main-main. Ada tes tertulis. Ada praktik cara pengarsipan. Ada pula wawancara yang menguji ketelitian, pengetahuan, dan konsistensi.
“Awalnya saya ditunjuk dari kantor. Prosesnya cukup panjang, mulai tes tertulis, praktik pengarsipan, sampai wawancara,” ujarnya usai menerima penghargaan.
Kerja keras itu berbuah manis. Hana masuk 10 besar terbaik. Dari sana ia kembali melewati wawancara akhir. Hasilnya, ia resmi meraih posisi kedelapan.
Hana menegaskan, pencapaian ini bukan hanya soal prestasi pribadi. Ia berharap momentum ini ikut mendorong DPMPTSP untuk semakin tertib dalam mengelola arsip.
“Ke depan, saya ingin pengelolaan arsip di DPMPTSP lebih tertib. Terutama dalam hal pemusnahan dan penyerahan arsip, termasuk arsip permanen,” tuturnya penuh semangat.
Baginya, arsip adalah jantung tata kelola pemerintahan. Dokumen yang rapi akan mempercepat pelayanan. Dokumen yang aman akan menjaga akuntabilitas.
Kepala DPMPTSP Kota Bontang, Muhammad Aspianur, tak menutupi kebanggaannya. Prestasi Hana, menurutnya, adalah bukti bahwa pegawai DPMPTSP bekerja dengan kompetensi dan dedikasi tinggi.
“Semoga ini menjadi inspirasi bagi rekan-rekan lain untuk terus bekerja optimal dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.
Melalui ajang Arsiparis Teladan, Pemerintah Kota Bontang ingin menegaskan bahwa urusan arsip tak boleh dipandang sebelah mata. Arsip bukan tumpukan berkas. Ia adalah jejak sejarah. Ia adalah bukti akuntabilitas. Ia pula yang menjadi pijakan arah kebijakan di masa depan.
Dan di balik pekerjaan sunyi itu, ada orang-orang seperti Hana. Bekerja tekun. Tidak terlihat. Namun menentukan. (ADS)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami


















