Pranala.co, BONTANG – Ada yang istimewa di Rumah Jabatan Wali Kota Bontang, Sabtu itu (12/7). Udara cerah. Tapi bukan itu yang membuat suasana terasa berbeda. Raut wajah-wajah yang biasanya letih karena mengurus rumah ibadah, hari itu tampak berseri-seri.
Ada senyum. Ada air mata haru. Ada rasa tak percaya.
Pagi itu, 50 orang penjaga rumah ibadah—baik marbot masjid maupun penjaga gereja, pura, dan vihara—menerima kejutan yang tak mereka sangka-sangka: Umrah gratis. Gratispol, nama programnya. Diberikan langsung Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudi Mas’ud.
Muhammad Ridwan, marbot Masjid Baiturrahim, masih terlihat seperti orang yang belum sepenuhnya sadar dari mimpi panjang.
“Awalnya saya ditelepon. Katanya dari yayasan Pak Rudi Mas’ud. Dapat umrah gratis. Saya pikir bohongan,” ujarnya polos.
Besoknya, datanglah rombongan. Membawa surat. Stempel. Tanda tangan. Ridwan pun percaya. Dan menangis.
“Baru tiga tahun saya jadi marbot. Tidak pernah berharap ini,” katanya, matanya berkaca-kaca.
Lain lagi dengan Suyadi. Ia sudah lama jadi marbot. Sejak musala kecil itu belum jadi masjid. Ia yang mengepel lantai, menyiram halaman, mematikan speaker bila lupa dimatikan. Ia juga yang menyalakan lampu saat waktu Magrib.
“Kerja saya ikhlas, Mas,” ujarnya lirih.
Dan pagi itu, ia berdiri gagah. Namanya dipanggil. Diberi simbolis: tiket ke Tanah Suci.
“Alhamdulillah. Ini hadiah dari Allah,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Ia hanya berharap, program seperti ini terus berlanjut.
“Di Guntung cuma saya yang dapat. Teman-teman di masjid lain belum. Semoga mereka juga dapat rezeki yang sama.”
Gubernur Rudi Mas’ud sendiri yang menyampaikan langsung maksud program ini. Katanya, ini adalah bentuk penghargaan atas pengabdian yang senyap. Para marbot, penjaga rumah ibadah, yang saban hari menjaga kebersihan, kenyamanan, dan ketenteraman tempat suci. Mereka tak banyak bicara, tapi terus bekerja.
“Mereka ini pejuang sunyi. Layak mendapat perhatian,” kata Rudi Mas’ud.
Tak hanya para penjaga rumah ibadah. Dalam kesempatan yang sama, Gubernur juga menyerahkan insentif kepada para guru—mulai dari PAUD hingga SMA. Termasuk guru-guru di sekolah swasta.
“Ini bukan sekadar uang. Ini bentuk terima kasih kami kepada para pendidik,” ujarnya.
Hari itu, tak ada yang lebih ramai daripada hati mereka yang menerima. Yang biasanya hanya terdengar suara azan atau kidung pujian, kini bergema suara syukur dan haru.
Dan Gratispol pun menjelma. Bukan hanya jadi program, tapi jadi bukti bahwa ikhlas—sekali waktu—dibalas juga oleh langit.
















