Pranala.co, SAMARINDA — Gedung baru Pasar Pagi Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) baru sepekan lebih beroperasi. Dari luar, bangunannya tampak modern. Lima lantai menjulang. Rapi. Bersih. Namun di balik fasad megah itu, kegelisahan mulai tumbuh di kalangan pedagang.
Keluhan datang bertubi-tubi. Mulai dari ukuran lapak yang sempit, desain lorong yang dinilai menyulitkan pembeli, hingga biaya parkir yang dianggap memberatkan. Para pedagang merasa realitas di dalam gedung tidak seindah janji saat sosialisasi.
Keresahan paling terasa di lantai lima. Di sana, pedagang pakaian mulai merasakan dampak langsung dari ukuran petak yang terbatas. Penempatan pedagang dimulai sejak 2 Januari 2026. Pasar dibuka untuk umum pada 7 Januari. Harapan akan tempat berdagang yang lebih luas dan nyaman perlahan pupus.
Lapak dibagi secara digital melalui aplikasi berdasarkan data Surat Keterangan Stand (SKS). Sistem ini dinilai tidak sepenuhnya memperhitungkan kebutuhan riil pedagang.
“Dari luar memang kelihatan luas. Tapi di dalam, petaknya kecil. Hanya sekitar 2 kali 2 meter,” kata Wati, pedagang pakaian generasi kedua yang telah berjualan sejak 2014, Senin (19/1/2026).
Ia menyebut pembagian lapak terasa seperti untung-untungan. Pedagang yang hanya mendapat satu petak kesulitan menata barang. Apalagi jika posisi kios berada di sudut atau tertutup lorong sempit.
“Banyak pengunjung tidak tahu ada toko di dalam. Jalannya kecil, petunjuk minim. Kami bersyukur masih dapat tempat, tapi semoga rezekinya tetap ada,” ujarnya lirih.
Keluhan serupa datang dari lantai bawah. Sarpani, pedagang jam dan kacamata di lantai satu, menyoroti perubahan konsep pasar yang dinilainya terlalu tertutup. Ukuran lapak kini hanya berkisar 1,5 hingga 2 meter. Jauh lebih kecil dibandingkan pasar lama.
“Dulu lapak paling kecil saja bisa 2 kali 2 meter. Sekarang malah menyempit,” katanya.
Masalah tidak berhenti di situ. Desain pintu rolling yang tidak seragam ikut memangkas ruang pajang. Pintu yang membuka ke samping memakan area etalase. Pedagang pun merasa semakin terkungkung di dalam kiosnya sendiri.
“Lorongnya panjang dan sempit. Jalurnya seperti lorong tertutup. Suasana pasar jadi mati,” ujar Sarpani, yang telah berjualan lebih dari 30 tahun.
Ia mengenang Pasar Pagi lama yang lebih terbuka. Lorong lebar. Etalase bisa ditata membentuk huruf L. Interaksi antara pedagang dan pembeli terasa hidup. Kini, sedikit saja lapak maju, jalan sudah tersumbat.
“Barang tidak bisa dipajang banyak. Kios juga terpencar. Operasional jadi sulit,” katanya.
Persoalan parkir menambah daftar panjang keluhan. Sistem parkir non-tunai dengan tarif per jam dinilai memberatkan. Tidak ada perbedaan tarif antara pedagang dan pengunjung. Padahal, pedagang berada di pasar seharian penuh.
Tarif parkir mencapai Rp2.000 per jam. Biaya harian bisa menyentuh Rp10.000 hingga Rp11.000. Tanpa opsi langganan bulanan.

“Ini berat bagi kami. Jualan dari pagi sampai sore,” kata Sarpani.
Keluhan juga datang dari pembeli. Banyak yang merasa tarif parkir mahal. Bahkan, ada pengunjung yang terpaksa membayar lebih karena tidak memiliki kartu non-tunai.
Hilangnya lahan parkir lama di pinggir sungai memperparah situasi. Area yang dulu menjadi andalan kini berubah menjadi taman kota. Akses menuju pasar pun dinilai semakin terbatas.
“Orang jadi malas datang. Parkir susah dan mahal. Dampaknya terasa, pembeli berkurang,” ujarnya.
Para pedagang mengaku masih menunggu tahap kedua penataan lapak. Mereka berharap ada evaluasi menyeluruh. Mulai dari ukuran kios, sirkulasi pengunjung, hingga kebijakan parkir.
Harapan mereka sederhana. Gedung yang megah semestinya memudahkan, bukan menyulitkan. Pasar bukan sekadar bangunan. Ia adalah denyut ekonomi rakyat.
Para pedagang berharap, kemilau Pasar Pagi Samarinda tak hanya indah dipandang dari luar. Tetapi juga ramah bagi mereka yang menggantungkan hidup di dalamnya. (TIA)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















