BONTANG – Frekuensi banjir yang dulu menjadi langganan kini semakin jarang terjadi. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat, sejak Januari hingga Agustus 2025 hanya terjadi lima kali banjir di Bontang.
Genangan air pun lebih cepat surut. Durasi dan luasannya jauh berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Namun, pemerintah mengingatkan agar warga tidak terlena. Ancaman banjir maupun longsor tetap mengintai.
“Kalau banjir atau longsor datang, pasti ada kerugian. Rumah bisa rusak, kendaraan terendam, bahkan korban jiwa. Karena itu kita tetap harus waspada,” tegas Kepala BPBD Bontang, Usman, Sabtu (16/8/2025).
Kepala Bidang Pencegahan BPBD Bontang, Eko Mashudi, menyebut masih ada sejumlah titik rawan banjir. Terutama kawasan yang dilalui aliran Sungai Bontang.
Beberapa lokasi yang kerap terdampak antara lain: Jalan Tomat, Kelurahan Satimpo, Bontang Barat. Jalan Tenis, Jalan Polo Air, Jalan Ahmad Yani, Jalan Kalimantan, Perumahan KCY, hingga Perumahan Bontang Permai di Kelurahan Api-Api, Bontang Utara.
Genangan biasanya memburuk saat hujan deras bersamaan dengan pasang laut.
“Tapi sekarang genangan lebih cepat surut. Sungai sudah dikeruk, juga ada turap baru,” jelas Eko.
Di Kelurahan Guntung, ancaman justru berasal dari air kiriman hulu sungai di Kutai Timur. Meski sudah ada pembangunan turap, BPBD menilai tambahan pintu air sangat dibutuhkan untuk mengatur aliran.
Selain itu, beberapa titik perbaikan drainase juga rawan. “Seperti dua hari lalu. Ada genangan, tapi cepat hilang,” tambahnya.
Selain banjir, longsor juga masih menghantui Bontang. Kampung Mas Darling di Kelurahan Kanaan serta beberapa wilayah di Loktuan dikenal memiliki tanah labil. Letaknya di perbukitan membuat wilayah ini rawan pergerakan tanah saat hujan deras.
“Warga di lereng atau dekat tebing harus hati-hati. Perhatikan tanda bahaya seperti retakan tanah, pohon miring, atau suara gemuruh,” pesan Eko.
Pemerintah memastikan program penanganan banjir dan longsor terus berlanjut. Tapi tanpa partisipasi warga, hasilnya tidak maksimal.
“Waspada itu penting, tapi jangan panik. Dengan kerja sama warga dan pemerintah, risiko bencana bisa ditekan,” tutup Eko. (FR)

















