Pranala.co, BONTANG — Program umrah gratis untuk marbot masjid di Kalimantan Timur (Kaltim) memang bagus, namun menuai catatan. Kali ini datang dari Forum Silaturahmi Marbot Masjid (Fosima) Bontang. Mereka berharap, pendataan dan pembagian kuota bisa lebih baik ke depannya.
Sekretaris I Fosima Bontang, Maulana Akbar, menyebut ada sejumlah persoalan yang harus segera dibenahi. Salah satunya, soal mekanisme penetapan nama marbot penerima program.
“Sejak awal kami sudah kirim data marbot yang aktif dan memenuhi syarat. Tapi ternyata penunjukan pelaksana dan penetapan nama dilakukan pihak lain. Tidak sesuai data yang kami serahkan,” jelas Maulana, Jumat (1/8/2025).
Fosima berharap, Pemprov Kaltim bisa lebih mengandalkan data dari daerah. Terutama data dari Kesra Pemkot Bontang yang selama ini rutin diperbarui setiap bulan saat pencairan insentif.
“Data itu cukup valid. Kalau daerah diberi kewenangan menetapkan, kami yakin akan lebih tepat sasaran,” tegasnya.
Tahun ini, kuota umrah untuk marbot di Bontang dibagi berdasarkan SK provinsi: Bontang Selatan: 13 kuota; Bontang Utara: 10 kuota; dan Bontang Barat: 10 kuota..Namun, Fosima menilai distribusi ini kurang proporsional. Pasalnya, jumlah masjid di tiap kecamatan tidak sama.
“Bontang Utara punya lebih banyak masjid dari Bontang Barat. Harusnya kuotanya disesuaikan. Supaya adil,” katanya.
Ia juga menyoroti wilayah Kelurahan Lok Tuan, yang sama sekali tidak kebagian jatah tahun ini. Hanya wilayah Guntung yang dapat satu kuota sebagai hadiah khusus dari provinsi.
Fosima Bontang juga mengkritik lambatnya alur informasi. Menurut Maulana, pemberitahuan resmi soal keberangkatan baru diterima setelah marbot dikumpulkan di Kantor Kemenag Bontang.
“Saat itu, malah pihak travel yang umumkan jadwal keberangkatan: 11 September. Harusnya informasi datang dari dinas atau lembaga resmi,” ucapnya.
Lebih jauh, Fosima bahkan menerima laporan bahwa ada pihak yang meminta marbot mengirim video pribadi. Hal ini sempat memicu kekhawatiran.
“Kami khawatir itu modus penipuan. Karena tidak ada pemberitahuan resmi. Makanya kami ingatkan marbot agar hati-hati,” kata Maulana.
Isu lain yang mencuat adalah soal masjid yang memiliki lebih dari satu marbot, tetapi hanya satu nama yang terdaftar.
“Kalau acuannya hanya data satu marbot per masjid, yang lain bagaimana? Padahal ada masjid dengan dua hingga tiga marbot. Semua bekerja, semua berjasa,” tegasnya.
Fosima ingin persoalan ini jadi bahan evaluasi di program berikutnya. Tujuannya agar lebih banyak marbot mendapat kesempatan yang sama.
Untuk menuntaskan berbagai persoalan ini, Fosima berencana mengajukan audiensi dengan Gubernur Kaltim dan pihak Kesra provinsi.
“Kami ingin duduk bersama. Diskusi terbuka. Cari solusi terbaik agar program umrah ini berjalan baik, merata, dan benar-benar dirasakan marbot,” ujar Maulana.
Menurutnya, jika pendataan akurat dan koordinasi lancar, program ini bisa menjadi kebanggaan bersama.
“Semangat kami tetap satu: mengadvokasi marbot. Karena mereka garda terdepan penjaga masjid. Mereka layak dihargai,” tutupnya. (FR)

















