SAMARINDA, Pranala,co – Perusahaan energi asal Italia, Eni, resmi mengambil keputusan investasi akhir (Final Investment Decision/FID) untuk proyek gas laut dalam di lepas pantai Kalimantan Timur (Kaltim) dengan nilai mencapai sekira US$ 15 miliar atau setara Rp240 triliun.
Investasi jumbo ini mencakup pengembangan dua klaster besar, yakni Gendalo-Gandang (South Hub) dan Geng North-Gehem (North Hub), yang digadang-gadang menjadi salah satu proyek strategis nasional di sektor hulu minyak dan gas bumi.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyebut keputusan ini sebagai sinyal kuat kepercayaan investor global terhadap industri migas Indonesia.
“Keputusan investasi ini menjadi langkah penting dalam mendukung peningkatan produksi gas nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia,” ujar Djoko dalam keterangannya, Kamis (19/3/2026).
Djoko menjelaskan, keputusan FID ini tergolong cepat karena diambil hanya sekitar 18 bulan setelah persetujuan Plan of Development (POD) pada 2024. Hal ini menunjukkan percepatan signifikan dalam pengembangan proyek migas laut dalam di Indonesia.
Secara teknis, proyek ini akan memanfaatkan teknologi produksi laut dalam dengan dukungan infrastruktur yang telah tersedia. Di antaranya penggunaan fasilitas Jangkrik Floating Production Unit (FPU) serta reaktivasi Train F di kilang LNG Bontang. Langkah ini dinilai mampu menekan biaya investasi sekaligus mempercepat proses komersialisasi gas.
Potensi Besar, Produksi Dimulai 2028
Untuk South Hub, pengembangan dilakukan di kedalaman laut antara 1.000 hingga 1.800 meter dengan pengeboran tujuh sumur produksi yang terhubung ke fasilitas Jangkrik.
Sementara North Hub akan menggarap hingga 16 sumur pada kedalaman mencapai 2.000 meter, yang dihubungkan ke fasilitas produksi terapung (Floating Production Storage and Offloading/FPSO) baru.
FPSO tersebut dirancang memiliki kapasitas pemrosesan lebih dari 1 miliar kaki kubik gas per hari serta sekitar 90.000 barel kondensat per hari.
Secara keseluruhan, kedua proyek ini diperkirakan menyimpan potensi sumber daya hingga 10 triliun kaki kubik gas (TCF) dan 550 juta barel kondensat.
Produksi ditargetkan mulai berjalan pada 2028 dan mencapai puncaknya pada 2029 dengan kapasitas sekitar 2 miliar kaki kubik gas per hari.
Gas yang dihasilkan nantinya akan dialirkan ke darat untuk memenuhi kebutuhan domestik sekaligus mendukung produksi LNG di Bontang, baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor.
Selain memperkuat pasokan energi, proyek ini juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi signifikan. Djoko menyebut investasi tersebut berpotensi menyerap ribuan tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung.
Di sisi lain, proyek ini juga menjadi bagian dari rencana kerja sama strategis antara Eni dan Petronas. Kedua perusahaan berencana membentuk entitas baru (NewCo) dengan target produksi gabungan lebih dari 500.000 barel setara minyak per hari pada 2029. (RIL/DIAS)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















