Hampir seluruh sistem sanitasi di Bontang sudah berjalan. Angkanya bahkan menembus 96,86 persen. Namun satu pekerjaan besar masih tersisa: menghapus praktik buang air besar sembarangan sepenuhnya pada 2027.
AMBISI itu terdengar sederhana, tetapi dampaknya besar: tidak ada lagi warga yang buang air besar sembarangan (BABS) di Kota Bontang, Kalimantan Timur pada 2027. Di balik target tersebut, tersimpan pekerjaan panjang—bukan hanya membangun fasilitas, tetapi juga mengubah kebiasaan.
Pemerintah Kota Bontang mulai menggeser pendekatan. Sanitasi tidak lagi sekadar urusan proyek fisik, melainkan gerakan bersama yang menyentuh perilaku sehari-hari warga.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyebut capaian saat ini menjadi pijakan penting. Pengelolaan air limbah domestik di kota industri tersebut telah mencapai 96,86 persen.
“Ini modal besar. Tinggal kita dorong percepatan agar 2027 benar-benar zero BABS,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Angka hampir 97 persen itu bukan sekadar statistik. Di lapangan, pemerintah telah mengembangkan berbagai infrastruktur—mulai dari pembangunan toilet umum, septic tank, hingga sistem pengolahan air limbah domestik.
Namun, pemerintah menyadari satu hal penting: fasilitas tanpa kesadaran tidak akan bertahan lama.
Karena itu, strategi kini diperluas. Edukasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat mulai digencarkan, menyasar kawasan permukiman padat yang masih rentan persoalan sanitasi.
Bontang bukan kota biasa. Aktivitas industri yang tinggi menghadirkan peluang sekaligus tantangan.
Di sinilah peran perusahaan dinilai krusial. Pemerintah mendorong kolaborasi lintas sektor, terutama dalam mempercepat penyediaan fasilitas sanitasi di wilayah yang belum terjangkau optimal.
“Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Dunia usaha harus ikut bergerak,” kata Neni.
Kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat pemerataan akses sanitasi, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Di balik isu sanitasi, ada persoalan yang lebih besar: kesehatan generasi masa depan.
Lingkungan yang tidak higienis menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap stunting. Air limbah yang tidak terkelola dengan baik berpotensi mencemari sumber air bersih dan memicu berbagai penyakit.
“Ini bukan sekadar soal kebersihan, tapi kualitas hidup anak-anak kita,” tegas Neni.
Karena itu, perbaikan sanitasi ditempatkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang pembangunan manusia.
Melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, berbagai program terus dijalankan. Tidak hanya membangun dan merawat infrastruktur, tetapi juga mengedukasi masyarakat.
Air bekas mandi, mencuci, hingga limbah toilet kini menjadi perhatian serius. Jika dibiarkan, dampaknya bisa meluas—dari pencemaran lingkungan hingga gangguan kesehatan.
Wali Kota Neni ingin memastikan bahwa perubahan tidak berhenti pada pembangunan fisik. Ada dorongan kuat agar sanitasi layak menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.
Target nol BABS 2027 menjadi simbol arah baru pembangunan Bontang: kota yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. [ads/fr]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















