Pranala.co, BONTANG – Program pinjaman modal tanpa bunga yang digagas Pemerintah Kota Bontang sejak Juni 2025 seharusnya menjadi angin segar bagi pelaku UMKM. Namun di lapangan, tak sedikit yang justru kecewa.
Alasannya? Banyak pelaku usaha mikro terganjal syarat administratif, terutama soal legalitas usaha.
“Saya kira tinggal datang ke bank. Ternyata harus punya NIB dan usaha harus terdaftar di dinas. Baru tahu saya,” ujar Hasnawati, pedagang gorengan di Gunung Telihan, Senin (28/7/2025).
Hasnawati mengaku bingung saat diminta mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB) secara online melalui sistem OSS (Online Single Submission).
“Semua disuruh daftar online. Tapi saya enggak ngerti caranya. Mau tanya-tanya juga enggak tahu ke siapa,” keluhnya.
Persyaratan administrasi bukan satu-satunya kendala. Banyak pelaku usaha yang ditolak karena riwayat kredit buruk.
Sugianto, pedagang pentol keliling, menyebut hampir seratusan rekannya gagal mendapat akses pinjaman.
“Banyak yang pernah macet cicilan. Jadi ditolak bank. Katanya jejak di BI Checking-nya jelek,” ungkapnya.
Lain lagi dengan Hadi, pedagang batagor keliling di Tanjung Laut. Ia justru ditolak karena masih punya pinjaman aktif.
“Saya masih nyicil KUR di bank swasta. Kata petugas, kalau masih punya kredit, enggak bisa ajukan pinjaman nol persen ini,” katanya kecewa.
Minimnya sosialisasi juga jadi persoalan. Winda, penjual minuman kekinian di Berbas Pantai, awalnya mengira program ini bantuan modal gratis alias hibah.
“Saya pikir ini bantuan dana, bukan pinjaman. Tapi ternyata harus dikembalikan, cuma bunganya nol persen. Tapi sosialisasinya kurang jelas,” ujarnya.
Program ini sejatinya ditujukan untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan. Tapi fakta di lapangan menunjukkan masih banyak pelaku usaha yang tak tersentuh informasi dan kesulitan teknis.
Mereka berharap Pemkot Bontang tak hanya menggulirkan program, tapi juga memberikan pendampingan langsung. Terutama bagi pelaku usaha kecil yang tak terbiasa urusan administratif dan digitalisasi.
“Kalau memang untuk rakyat kecil, tolong bantu kami dari awal. Jangan suruh urus sendiri tanpa arahan,” pinta Hasnawati. (fr)


















