BONTANG, Pranala.co – Di balik gemerlap industri dan citra kota energi, Lapas Kelas IIA Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) menyimpan cerita humanis yang jarang tersorot. Di dalam kompleks berdinding tinggi yang menampung 1.713 warga binaan, seorang bayi tengah menjalani masa pertumbuhan bersama ibunya—narapidana yang menunggu hari bebas sambil mengasuh buah hati.
Kasubdit Registrasi Lapas Bontang, Dwi Satrio Kuncoro, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat satu bayi yang tinggal di dalam lapas. Bayi tersebut lahir belum lama ini, setelah sang ibu dipindahkan dari Kutai Timur dalam kondisi hamil.
“Total penghuni sekarang 1.713 orang, termasuk satu anak bawaan. Ibunya datang ke sini sudah dalam kondisi hamil dan kemudian melahirkan,” jelas Dwi kepada Pranala.co, Jumat (27/3/2026).
Berbeda dengan narapidana lainnya, ibu dan bayi ini mendapat perlakuan istimewa. Kebijakan Lapas Bontang memastikan bayi tidak dipisahkan dari ibunya demi menunjang tumbuh kembang, terutama dalam masa menyusui yang krusial.
“Bayi tetap satu kamar dengan ibunya karena masih menyusui. Tapi kondisi kamar diatur agar lebih layak untuk anak,” ujarnya.
Penyesuaian ini mencakup modifikasi hunian agar lebih higienis dan nyaman bagi bayi. Langkah tersebut menjadi bagian dari pendekatan humanis dalam sistem pemasyarakatan modern, sekaligus jaminan pemenuhan hak dasar anak meski berada di lingkungan terbatas.
Aspek kesehatan menjadi prioritas utama. Napi hamil mendapat pemantauan intensif dari klinik lapas sejak awal kehamilan terdeteksi. Namun, untuk proses persalinan, ibu dirujuk ke fasilitas kesehatan luar dengan pengawalan ketat petugas.
“Awalnya dirawat di klinik lapas, tapi untuk melahirkan tetap dirujuk ke rumah sakit dengan pengawalan petugas,” terang Dwi.
Setelah melahirkan, ibu dan bayi menjalani masa pemulihan di klinik lapas sebelum akhirnya kembali ke kamar hunian khusus. Sistem ini memastikan kesehatan ibu dan anak tetap terjaga optimal.
Sebagian besar napi perempuan yang masuk Lapas Bontang dalam kondisi hamil umumnya sudah memasuki usia kandungan sekitar tiga bulan. Informasi ini disertai surat keterangan resmi dari instansi penahan, memberikan waktu bagi pihak lapas untuk bersiap.
“Dari awal sudah ada keterangan hamil, jadi kami bisa siapkan tempat, layanan kesehatan, dan kebutuhan lainnya,” jelas Dwi.
Di balik perhatian khusus untuk ibu dan anak, Lapas Bontang menghadapi realitas keras: kelebihan kapasitas yang ekstrem. Dari daya tampung ideal 376 orang, kini dihuni lebih dari 1.700 warga binaan—lonjakan 354 persen.
Menariknya, hampir 1.000 penghuni berasal dari Kutai Timur. Fenomena ini terjadi karena wilayah tersebut belum memiliki lapas sendiri, memaksa narapidana ditampung di Bontang.
“Kondisi ini memang terjadi di banyak daerah. Tapi untuk Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, jumlah penghuni terbanyak ada di Bontang,” katanya.
Meski berada dalam tekanan kapasitas yang menggunung, Lapas Bontang tetap berkomitmen memberikan layanan manusiawi. Kehadiran bayi di balik jeruji menjadi pengingat bahwa sistem pemasyarakatan bukan sekadar tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















