Pranala.co, BONTANG – Pengurus Masjid Al Amien di Kelurahan Telihan, Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) nyaris menjadi korban penipuan. Modusnya: mengatasnamakan Dinas Sosial (Dissos) Provinsi Kalimantan Timur.
Pelaku menjanjikan bantuan dana pembangunan masjid. Namun, di balik janji manis itu, terselip permintaan transfer uang yang akhirnya membuat pengurus curiga.
Beruntung, permintaan tersebut tak diindahkan. “Alhamdulillah kami tidak sampai jadi korban. Kami curiga, jadi tidak kami penuhi permintaannya,” ujar Ketua Pengurus Masjid Al Amien, Achmad Subandi, Kamis (24/7/2025).
Pria yang akrab disapa Gus Bandi itu menceritakan kronologinya kepada Pranala.co.
Segalanya bermula dari pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal. Mengaku bernama Harry, S.Pd., M.Si dari Dissos Kaltim, si pengirim bertanya apakah benar nomor itu milik pengurus Masjid Al Amien.
Karena merasa tak ada yang janggal, Gus Bandi menjawab jujur. Terlebih, saat ini masjid memang sedang butuh bantuan dana untuk rehab ulang gedung TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an).
Tak berselang lama, pelaku kembali menghubungi. Ia meminta foto kondisi TPA dan Rencana Anggaran Biaya (RAB), lengkap dengan nomor rekening aktif.
“Katanya untuk keperluan laporan. Kami turuti, karena niat kami memang berharap bantuan,” katanya.
Kejutan terjadi keesokan harinya. Pelaku mengirimkan foto bukti transfer Rp15,5 juta atas nama Nur Cholifa dari Bank BNI.
Rinciannya: Rp10 juta disebut untuk Masjid Al Amien, dan Rp5,5 juta untuk santunan ke Pondok Pesantren Al Amin di Samarinda.
“Pelaku bilang nanti Jumat akan datang bersama timnya ke masjid. Tapi kami mulai curiga, karena pencairan dana terlalu cepat,” tutur Gus Bandi.
Tak hanya itu, pelaku meminta agar pengurus masjid mentransfer dulu dana Rp5,5 juta ke pondok pesantren, dengan alasan resi transfer dibutuhkan untuk laporan ke atasan.
“Kami disuruh talangi dulu. Tapi kami minta tunggu bukti cetak dari bank,” jelasnya.
Diskusi dengan sesama pengurus semakin menguatkan kecurigaan. Terutama setelah mengecek bukti transfer yang ternyata hasil editan.
Setelah menyadari bahwa itu penipuan, pengurus masjid langsung memutus komunikasi. Gus Bandi berharap pengalaman ini bisa jadi pelajaran bagi pengurus masjid lain agar tak mudah tergiur bantuan instan.
“Kita harus lebih hati-hati. Jangan mudah percaya pada yang mengaku-ngaku dari instansi, apalagi sampai minta uang duluan,” tegasnya.
















