Pranala.co, PAREPARE – Ada yang unik dari suasana akhir pekan di Media Cafe, Parepare. Sabtu (12/7/2025) itu, puluhan wartawan dari berbagai penjuru Sulawesi Selatan tumpah ruah dalam satu ruangan. Mereka tak sedang mengejar berita. Tapi belajar bagaimana menjadi wartawan yang benar—dan bertahan di tengah badai digital.
Itulah Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK). Satu program pengkaderan yang digelar organisasi pers tertua dan terbesar di Indonesia: PWI.
Sesi dimulai tenang. Tapi tak lama kemudian, tawa meledak di antara peserta. Materi soal kode etik jurnalistik yang biasanya “kering”, berubah renyah oleh gaya penyampaian pemateri. Kadang serius. Kadang jenaka. Kadang justru menyentil.
Tapi ada juga saat-saat sunyi. Saat mereka dihadapkan pada kenyataan pahit industri media yang kini makin ringkih. Saat ditanya soal independensi dan idealisme. Atau ketika membahas ancaman hoaks dan tekanan politik.
“Jangan cuma bisa menulis. Wartawan juga harus tahu posisi, paham organisasi, dan punya integritas,” ujar Ir. Abdul Manaf Rachman, Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Sulsel, yang membuka acara.
Materi demi materi disampaikan. Dari kode etik, keorganisasian, profesionalisme, hingga tantangan jurnalisme digital. Semua dipadatkan dalam satu hari. Tapi tak satu pun peserta mengeluh. Bahkan saat ujian datang—dengan soal pilihan ganda dan essai—senyum mereka tetap mengembang.
“Kami seperti keluarga besar. Bisa kenal wartawan dari Bone, Makassar, Sidrap, hingga Toraja. Ini yang mahal,” kata salah satu peserta.
Sesi istirahat menjadi ruang berbagi kisah lapangan. Ada yang cerita soal liputan banjir. Ada yang curhat soal honor redaksi yang telat. Semuanya saling menyemangati.
OKK ini bukan sekadar pelatihan. Tapi pengingat: bahwa wartawan bukan hanya penulis berita. Ia adalah penjaga nurani publik. Dan untuk bisa bertahan, ia harus terlatih, terorganisasi, dan terus belajar.
Satu hari. Tapi kesannya bisa seumur hidup.


















