Pranala.co, SAMARINDA — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur (Kaltim) meningkatkan kewaspadaan menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi. Banjir dan tanah longsor menjadi perhatian utama hingga akhir Maret mendatang.
Peningkatan kewaspadaan ini menyusul rilis terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Data tersebut menunjukkan potensi curah hujan harian di Kalimantan Timur masih tergolong sedang hingga tinggi.
Kepala BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengatakan kondisi ini menempatkan sejumlah wilayah pada tingkat risiko menengah sampai tinggi.
“Wilayah kita memang rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Berdasarkan pemantauan mingguan, khususnya periode 4 sampai 9 kemarin, curah hujan berada di kisaran 20 hingga 50 milimeter per hari,” ujar Buyung di Samarinda.
Ia menyebut potensi hujan masih cukup besar terjadi di beberapa daerah. Kabupaten Berau dan Kutai Timur menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih.
Menurut Buyung, kondisi atmosfer saat ini turut dipengaruhi faktor eksternal. Salah satunya dampak angin siklon yang terbentuk di kawasan Pasifik.
Meski demikian, Buyung memastikan situasi secara umum di Kalimantan Timur masih terkendali. Hingga kini, belum ada penetapan status siaga dari pemerintah pusat.
Terkait banjir yang sempat melanda sejumlah titik, seperti di wilayah Wahau, Buyung menjelaskan peristiwa tersebut dipicu oleh luapan air sungai atau rob. Bukan karena perubahan struktur geografis yang ekstrem.
Karakteristik tanah di Kalimantan Timur juga dinilai relatif stabil. Berbeda dengan wilayah pegunungan di Sumatera, laporan kejadian tanah longsor di Kaltim hingga saat ini belum ditemukan.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Kaltim terus memperkuat koordinasi lintas sektor. Sinergi dilakukan bersama pemerintah kabupaten dan kota, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Basarnas.
BPBD juga menyiagakan personel untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Langkah evakuasi dan pengungsian siap dilakukan jika kondisi di lapangan memburuk.
“Kami selalu siap jika terjadi kondisi darurat. Dampak banjir yang paling terasa sejauh ini adalah terganggunya akses jalan di beberapa permukiman, seperti yang terakhir terjadi di Wahau,” jelas Buyung.
Selain kesiapan personel, BPBD Kaltim juga memfokuskan pembenahan pada peralatan mitigasi bencana. Pendataan menyeluruh terhadap seluruh sarana penunjang di tingkat provinsi hingga kabupaten dan kota tengah dilakukan.
Buyung menekankan pentingnya akurasi data lapangan. Tujuannya agar seluruh peralatan siap digunakan ketika bencana terjadi.
“Ini menjadi pekerjaan rumah bagi saya. Saya ingin memastikan langsung kondisi peralatan di lapangan, bukan hanya menerima laporan. Semua harus masuk dalam satu basis data agar saat dibutuhkan bisa langsung digunakan,” pungkasnya. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















