Pranala.co, BONTANG — Di ujung kota, tanah itu terbentang sunyi. Luasnya 6,8 hektare. Tak ada bangunan. Tak ada pagar. Hanya rerumputan dan sedikit ilalang. Tapi besok, lahan kosong ini akan kedatangan tamu penting.
Dari Jakarta, perwakilan kementerian Sosial (Kemensos) dijadwalkan mendarat. Selasa, 5 Agustus 2025. Mereka datang untuk satu misi: meninjau bakal lokasi Sekolah Rakyat—sebuah sekolah yang kelak jadi rumah bagi anak-anak yang tak pernah punya ruang di sekolah umum.
Jika penilaian berjalan mulus, lahannya akan diperluas jadi 8 hektare. Bukan sekadar tambah luas, tapi untuk memungkinkan hadirnya laboratorium, asrama, dan ruang keterampilan hidup. Karena sekolah ini memang tak biasa.
Sekolah Rakyat ini disiapkan untuk anak-anak putus sekolah. Untuk mereka yang keluarganya miskin, sangat miskin. Berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), jumlahnya lebih dari 2.000 anak di Bontang yang masuk kategori Desil 1 dan 2.
Mereka bukan tak ingin belajar. Tapi hidup kadang terlalu cepat memaksa mereka dewasa. Banyak dari mereka yang sudah bekerja membantu orang tua. Mencari uang. Menopang dapur agar tetap mengepul.
“Ini bukan soal membangun gedung sekolah. Ini membangun harapan,” kata Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, Senin (4/8/2025).
Rancangannya tidak seperti sekolah biasa. Sekolah ini tak hanya mengajarkan matematika atau bahasa. Tapi juga tata boga, pertanian, keterampilan kerja, dan pelajaran hidup lainnya. Agar anak-anak bisa belajar sambil bekerja. Atau bekerja sambil tetap belajar.
“Kami ingin anak-anak tetap punya masa depan, tanpa harus meninggalkan realitas hidup mereka,” kata Agus.
Peninjauan dari kementerian besok akan fokus pada dua hal: kesesuaian lahan, dan kesiapan para siswa yang akan dimerger ke sekolah ini. Pemerintah tak ingin ini sekadar perpindahan. Tapi pemulihan semangat belajar anak-anak yang nyaris padam.
Sekolah Rakyat ini juga punya misi ganda. Bukan hanya untuk anak. Tapi juga untuk orang tuanya.
Di sekitar sekolah akan disiapkan program pemberdayaan keluarga. Orang tua bisa dilibatkan dalam kegiatan produktif. Agar mereka tak hanya menunggu, tapi ikut tumbuh bersama.
“Sekolah ini akan jadi ekosistem. Anak belajar, orang tua diberdayakan, komunitas ikut terlibat,” ujar Agus Haris. (FR)
















