Pranala.co, BONTANG — Ketergantungan pada kekayaan alam dinilai tidak lagi cukup untuk menjamin masa depan Kota Bontang. Inovasi dan riset harus menjadi energi baru agar kota industri ini tetap berdaya saing di tengah perubahan zaman.
Visi tersebut ditegaskan Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, saat menerima kunjungan kerja Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yopi, di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota, Kamis (5/2/2026).
Pertemuan yang diinisiasi Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) Kota Bontang itu menjadi ruang dialog strategis mengenai arah pembangunan daerah ke depan.
Wali Kota Neni menyoroti posisi Bontang yang unik. Meski memiliki wilayah relatif kecil, kontribusi Bontang terhadap perekonomian nasional terbilang besar berkat keberadaan industri skala raksasa seperti PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) dan Badak LNG.
Namun, menurut Neni, kondisi tersebut tidak boleh membuat daerah dan masyarakatnya terlena.
“Bontang dikepung industri besar, tetapi kita tidak ingin hanya menjadi penonton. Inovasi harus menjadi strategi utama pembangunan daerah agar manfaat industri benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, kehadiran BRIN yang memperkenalkan konsep Rumah Inovasi Daerah disambut positif oleh Pemerintah Kota Bontang. Konsep ini dinilai sejalan dengan upaya diversifikasi ekonomi daerah agar tidak terus bergantung pada sektor migas dan industri ekstraktif.
Meski demikian, Wali Kota menekankan satu hal penting: riset harus membumi dan memberi dampak nyata.
“Kami berharap riset tidak berhenti di kampus atau laporan ilmiah. Riset harus hadir sebagai solusi konkret bagi persoalan masyarakat, mulai dari pengelolaan sampah, energi, hingga masalah sosial yang dihadapi warga sehari-hari,” ujarnya.
Neni menilai, kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga riset, akademisi, dan industri menjadi kunci agar inovasi dapat diterapkan secara berkelanjutan. Karena itu, ia membuka pintu selebar-lebarnya bagi BRIN untuk mendampingi Bontang dalam membangun ekosistem riset dan inovasi yang kuat.
Komitmen tersebut juga diiringi dengan kesiapan pemerintah kota berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia. Untuk mewujudkan transformasi menuju kota berbasis teknologi dan pengetahuan, Pemkot Bontang berencana memperluas akses pendidikan bagi aparatur sipil negara (ASN) maupun generasi muda, termasuk peluang studi hingga ke luar negeri.
“Kami ingin SDM Bontang unggul dan siap bersaing. Kontribusi Bontang untuk Indonesia besar, maka kualitas sumber daya manusianya juga harus sebanding,” tutup Neni.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan paparan teknis mengenai pengembangan Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Bontang. Kawasan ini diproyeksikan menjadi ekosistem kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan dunia industri, sekaligus wadah lahirnya inovasi yang mampu menjawab tantangan pembangunan daerah di masa depan. (RIL)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















