BALIKPAPAN – Aktivitas seismik di wilayah Kalimantan mengalami peningkatan signifikan sepanjang tahun 2024. Stasiun Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balikpapan melaporkan bahwa jumlah gempa bumi yang terjadi di Kalimantan meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut Rasmid, Kepala Stasiun BMKG Balikpapan, hingga 6 September 2024, tercatat sebanyak 153 gempa bumi di wilayah Kalimantan. “Selama tahun ini, sudah tercatat 153 gempa, dan puluhan di antaranya dirasakan oleh masyarakat,” ungkapnya dalam keterangan resmi yang dikutip, Selasa (17/9/2024).
Rasmid menjelaskan bahwa gempa bumi tersebut terjadi di beberapa wilayah seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara, yang semuanya berada dalam cakupan pemantauan BMKG Balikpapan.
Kabupaten Mahakam Ulu dan Berau menjadi wilayah yang paling sering merasakan gempa, meskipun intensitas getarannya tergolong kecil. “Meski tidak terlalu kuat, gempa di kedua daerah tersebut bisa terjadi hingga tiga kali dalam sebulan,” jelasnya.
Sementara itu, di Kalimantan Utara, Kota Tarakan bahkan mengalami gempa hingga empat kali dalam satu bulan. Peningkatan aktivitas seismik juga terasa di Kalimantan Selatan, dengan gempa terkuat yang bersumber dari Kepulauan Bawean di Laut Jawa.
“Meskipun gempa tersebut berjarak sekitar 135 kilometer dari Gresik, getarannya cukup kuat hingga terasa di Kalimantan Selatan dan sempat dirasakan oleh Gubernur Kalimantan Selatan,” ungkap Rasmid.
Peningkatan jumlah gempa bumi di Kalimantan, menurut Rasmid, kemungkinan disebabkan oleh siklus sepuluh tahunan, di mana pergerakan sesar aktif di wilayah tersebut melepaskan energi yang terakumulasi selama bertahun-tahun.
“Kalimantan memiliki beberapa sesar aktif yang perlu diwaspadai,” jelasnya.
Beberapa sesar utama di Kalimantan meliputi Sesar Meratus yang membentang sepanjang 110 kilometer dari utara ke selatan dan melintasi Kabupaten Paser, serta Sesar Sangkulirang, yang merupakan kelanjutan dari Sesar Palukoro yang pernah memicu tsunami kecil pada 14 Mei 1921.
Tak hanya itu, terdapat pula Sesar Mangkalihat dan Sesar Tarakan, yang masing-masing memiliki panjang 100 kilometer dan menjadi bagian penting dari peta seismik Kalimantan. Meski gempa bumi dapat diprediksi secara siklus, tetap saja fenomena ini penuh kejutan dan sulit untuk diprediksi secara pasti.
Selain sesar aktif yang masih memiliki potensi besar untuk memicu gempa, Rasmid juga menekankan pentingnya memperhatikan Sesar Purba yang membentang dari Kalimantan Barat hingga Kabupaten Paser Bagian Utara di Teluk Adang.
Menurutnya, sesar ini masih perlu diawasi secara cermat karena meskipun dianggap purba, pergerakan sesar tersebut masih dapat berpotensi memicu gempa di masa depan.
Menyikapi peningkatan aktivitas gempa di Kalimantan, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti informasi terbaru mengenai potensi gempa di wilayah mereka. Pemerintah daerah juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana alam, terutama di wilayah-wilayah yang rentan terhadap gempa bumi. (*)
*) Ikuti berita terbaru PRANALA.co di Google News ketuk link ini dan jangan lupa difollow




















Comments 1