Pranala.co, BONTANG — Suara mesin pencukur terdengar di balik jeruji besi. Rabu pagi (2/7/2025), Lapas Kelas IIA Bontang berubah. Bukan menjadi salon. Tapi tempat belajar mencukur rambut. Serius.
Sebanyak 20 warga binaan duduk rapi. Berseragam. Bukan menunggu panggilan sidang. Tapi antre pelatihan. Pelatihan barbershop.
Kepala Lapas Bontang, Suranto, membuka langsung kegiatan itu. Ia datang bersama jajarannya: Edy Ja’ang, Adi Sukatno, dan Sarifudin. Dari luar, hadir juga tim pelatih dari LPK Rika. Dipimpin Riza Wahyu Bahri.
Kalapas menyebut, pelatihan ini bukan sekadar kegiatan pengisi waktu. Tapi bagian dari proses pembebasan. Bukan secara hukum. Tapi secara ekonomi.
“Mereka mungkin pernah keliru. Tapi bukan berarti masa depannya gelap. Pelatihan ini kami harap bisa jadi bekal hidup ketika mereka keluar nanti,” kata Suranto.
Program barbershop ini bukan main-main. Materinya lengkap. Mulai teori dasar tata rambut. Sampai praktik langsung: memegang clipper, sisir, dan tentu saja — kepala teman sendiri.
Para peserta yang lulus akan diberi sertifikat resmi dari LPK Rika. Sertifikat itu bisa jadi modal untuk bekerja — atau bahkan buka usaha sendiri — setelah masa tahanan selesai.
Pelatihan barbershop ini adalah satu dari banyak program pembinaan yang dijalankan Lapas Bontang. Prinsipnya sederhana: lapas bukan sekadar tempat menghukum. Tapi tempat memperbaiki.
“Ini perintah Dirjen Pemasyarakatan. Warga binaan harus produktif. Harus punya keterampilan. Harus bisa jadi bagian dari masyarakat lagi,” ujar Suranto.
Tak semua orang percaya bahwa narapidana bisa berubah. Tapi Lapas Bontang percaya. Buktinya: mesin cukur sudah berputar. Ilmu sudah ditanam. Tinggal waktu yang menjawab.
Siapa tahu, tukang cukur langganan Anda di masa depan, ternyata pernah belajar mencukur dari balik jeruji. [RIL]

















