Pranala.co, SAMARINDA – Kalimantan Timur (Kaltim) tidak pernah benar-benar bebas dari ancaman bencana. Setiap tahun, risikonya datang silih berganti. Banjir. Tanah longsor. Kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim memilih bersiaga penuh.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Yasir, menegaskan komitmen tersebut di hadapan DPRD Kaltim. Penegasan itu disampaikan saat menjawab pertanyaan terkait langkah mitigasi agar bencana di Kaltim tidak berdampak besar, seperti yang pernah terjadi di Aceh dan Sumatera.
“Kami selalu mengedepankan kesiapsiagaan,” kata Yasir.
Menurutnya, ada tiga jenis bencana utama yang rutin mengancam Kaltim setiap tahun. Banjir. Longsor. Dan karhutla. Ketiganya membutuhkan kesiapan sejak dini.
Untuk itu, BPBD kabupaten dan kota kini berada dalam status siap siaga. Posko penanganan bencana didirikan langsung di kantor BPBD masing-masing daerah. Dari sanalah koordinasi digerakkan.
Yasir menyebut, kesiapsiagaan tidak hanya soal respons cepat. Tetapi juga soal mitigasi. Salah satunya menjaga ekosistem agar tetap berfungsi dengan baik.
Dalam laporannya, Yasir juga menyampaikan perkembangan penanganan banjir di sejumlah wilayah. Di Kutai Timur dan Berau, kondisi banjir sudah surut. Penanganan berjalan baik. Situasi relatif terkendali.
Banjir di Muara Wahau, Kutai Timur, yang terjadi sejak 12 dan 13, kini juga telah tertangani. Air berangsur surut.
“Secara umum di Kutim sudah dalam kondisi stabil,” ujarnya.
Di kawasan Batu Timbau, khususnya di sekitar pasar, ketinggian air dilaporkan turun sekitar 40 sentimeter dibanding hari sebelumnya. Aktivitas warga mulai kembali berjalan. Pasar perlahan hidup lagi.
Yasir juga mengonfirmasi adanya peristiwa anak-anak yang meninggal dunia saat bermain di area banjir. Korban telah ditemukan dan ditangani sesuai prosedur.
Ia menekankan, penanganan bencana tidak bisa dikerjakan sendiri. Harus kolaboratif. Harus terstruktur.
“Keterlibatan semua unsur sangat penting,” kata Yasir.
TNI dan Polri ikut bergerak. Relawan turun ke lapangan. Organisasi kepemudaan, dunia usaha, hingga masyarakat turut ambil peran. Perusahaan swasta juga terlibat dalam dukungan penanganan.
Untuk mendukung operasional, posko-posko bencana dilengkapi peralatan utama. Ada perahu karet. Ada kendaraan evakuasi. Ada logistik.
Soal alat, Yasir memastikan ketersediaannya relatif memadai. Baik di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota. Meski begitu, pembaruan tetap dilakukan secara berkala.
Di Samarinda saja, perahu karet tersedia sekitar 30 hingga 50 unit. Terakhir, Yasir menyinggung anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT). Ia menegaskan, BTT tidak hanya diperuntukkan bagi BPBD.
“Anggaran itu digunakan untuk semua kejadian yang membutuhkan penanganan cepat,” ujarnya. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















