BONTANG, Pranala.co — Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang mulai menjawab persoalan klasik ketenagakerjaan: sulitnya akses informasi dan mahalnya biaya melamar kerja. Rabu (1/4/2026), Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Bontang resmi meluncurkan aplikasi “Teman Naker”.
Aplikasi ini dapat diunduh melalui PlayStore dan App Store, dan dirancang untuk mempermudah pencari kerja sekaligus membantu perusahaan mendapatkan tenaga kerja yang sesuai.
Kepala Bidang Lattas Penta Disnaker Bontang, Lukmanul Hakim, mengatakan kehadiran aplikasi ini berangkat dari keluhan para pencari kerja yang selama ini harus mengeluarkan biaya berulang kali hanya untuk melamar pekerjaan.
“Selama ini banyak biaya yang dikeluarkan, seperti fotokopi berkas dan lain-lain, tetapi belum tentu diterima. Melalui aplikasi ini, proses tersebut bisa lebih efisien dan tanpa biaya,” ujarnya.
Lebih dari sekadar platform lowongan kerja, “Teman Naker” menjadi bagian dari upaya digitalisasi layanan ketenagakerjaan. Sistem ini diharapkan mampu mempercepat penyaluran tenaga kerja, memperbaiki pendataan pencari kerja, serta memperkuat konektivitas antara pencari kerja dan dunia usaha.
Peluncuran aplikasi ini juga menjadi langkah konkret dalam mendukung implementasi Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2018 tentang penyerapan tenaga kerja lokal.
Acara peluncuran dihadiri berbagai pihak, mulai dari perwakilan 135 perusahaan, lembaga pelatihan kerja, camat dan lurah se-Kota Bontang, hingga instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik (BPS) dan Balai Latihan Kerja Industri (BLKI).
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, menegaskan bahwa inovasi ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam menghadapi era transformasi digital.
“Kota Bontang berada di era yang menuntut kecepatan dan transparansi. Pemerintah harus berada di garda terdepan dalam adopsi teknologi,” katanya.
Menurut Agus Haris, aplikasi “Teman Naker” tidak hanya berfungsi sebagai portal informasi, tetapi juga sebagai ekosistem digital yang dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara kebutuhan industri dan kompetensi tenaga kerja.
Ia juga menyoroti ketidakseimbangan antara jumlah pencari kerja dan ketersediaan lapangan kerja. Dalam satu lowongan, kata dia, puluhan pelamar bisa bersaing.
“Kondisi ini menjadi tantangan besar. Pemerintah dan dunia usaha harus bersama-sama menekan angka pengangguran,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong perusahaan untuk aktif menyampaikan proyeksi kebutuhan tenaga kerja setiap tahun. Langkah ini dinilai penting agar pemerintah dapat menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Pemkot Bontang juga menargetkan sekitar 75 persen tenaga kerja di perusahaan berasal dari warga lokal, sebagaimana diamanatkan dalam regulasi daerah.
“Ini bukan sekadar kewajiban, tetapi komitmen bersama agar masyarakat Bontang ikut merasakan manfaat keberadaan industri,” tegasnya.
Dengan sistem yang terintegrasi melalui “Teman Naker”, pemerintah berharap tidak ada lagi kesenjangan informasi terkait peluang kerja dan pelatihan. Di sisi lain, perusahaan juga tidak kesulitan mencari tenaga kerja lokal yang kompeten.
Pemkot Bontang optimistis, inovasi ini menjadi langkah strategis menuju target “zero pengangguran” sekaligus mendorong terciptanya sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















