Pranala.co, MAROS — Produktivitas jagung di Desa Tompobulu, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, melonjak tajam. Dari rata-rata 2,5 ton per hektare, kini menembus 6 ton per hektare. Kenaikannya sekira 140 persen.
Lonjakan itu bukan terjadi begitu saja. Ada intervensi program pendampingan pertanian melalui Agrosolution yang digagas PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim).
Panen raya digelar Rabu, 11 Februari 2026. Hadir perwakilan Pemerintah Kabupaten Maros dan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan. Momen ini menjadi penanda keberhasilan kolaborasi multipihak dalam meningkatkan produktivitas jagung di wilayah tersebut.
Direktur Manajemen Risiko Pupuk Kaltim, Teguh Ismartono, menjelaskan Agrosolution merupakan wujud komitmen perusahaan dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Program ini tidak sekadar menyalurkan pupuk.
Petani mendapatkan akses komprehensif. Mulai dari penyediaan benih unggul, pupuk berkualitas, pemupukan berimbang, metode tanam berbasis ilmiah, hingga pendampingan agronomis berkelanjutan.
“Panen raya hari ini merupakan kesinambungan dari realisasi Agrosolution, khususnya pada komoditas jagung. Kami ingin memastikan setiap produk Pupuk Kaltim benar-benar memberi nilai tambah di tingkat petani,” ujar Teguh.
Di Tompobulu, program ini mencakup lahan seluas 25–30 hektare dengan melibatkan sekitar 130 petani. Pendampingan dilakukan secara intensif, termasuk peningkatan kapasitas petani dan penerapan teknologi pertanian modern yang tepat guna.
Data hasil ubinan memperlihatkan capaian yang lebih tinggi lagi. Dua titik sampel menunjukkan produktivitas 12,8 ton dan 12,6 ton per hektare. Sementara data ubinan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 11,92 ton per hektare pada lahan yang sama.
Angka ini memperkuat indikasi bahwa pendekatan berbasis ekosistem—mengintegrasikan produk, teknologi, pendampingan, dan sinergi kelembagaan—mampu menghasilkan lompatan produksi yang signifikan.
Komisaris Utama Pupuk Kaltim, Andhi Nirwanto, menyebut keberhasilan di Tompobulu menunjukkan model Agrosolution relevan untuk direplikasi di daerah lain.
Menurutnya, ke depan Indonesia tidak hanya perlu mendorong swasembada beras dan jagung, tetapi juga memikirkan diversifikasi pangan agar tidak bergantung pada impor komoditas lain seperti gandum.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Maros, Abdul Azis Achmad, mengapresiasi kolaborasi yang terbangun dalam program ini.
Ia menilai keberhasilan panen raya membuktikan sektor pertanian Maros memiliki potensi besar jika dikelola optimal melalui kemitraan strategis.
“Kami sangat mendukung semangat dan kerja keras para petani jagung di Tompobulu. Pemerintah Kabupaten Maros akan terus melakukan intervensi nyata agar potensi pertanian daerah dapat dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya.
Dari sisi pengawasan, Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Ferizal, menegaskan peran kejaksaan dalam memastikan program berjalan efektif, transparan, dan sesuai ketentuan hukum.
Pengawalan dilakukan terutama pada aspek penyaluran pupuk agar tepat sasaran hingga ke tangan petani.
Ketua Kelompok Tani Tompo Limbua, Sahabuddin, menyampaikan peningkatan produktivitas yang dicapai tahun ini jauh lebih signifikan dibandingkan sebelumnya.
Pendampingan intensif membuat petani lebih memahami tata kelola lahan dan pemupukan berimbang.
“Pendampingan seperti ini yang selama ini sangat kami harapkan, dan akhirnya mampu meningkatkan hasil produksi secara signifikan,” katanya.
Secara umum, jagung merupakan salah satu komoditas strategis nasional dan andalan petani di Maros. Pada 2025, produksi jagung Maros tercatat 73.384,21 ton yang tersebar di 14 kecamatan. Kecamatan Tompobulu menjadi kontributor terbesar dengan produksi 35.190,30 ton.
Keberhasilan Agrosolution dinilai menjadi momentum penting untuk mendorong produktivitas lebih tinggi lagi melalui pengelolaan lahan modern dan berbasis kemitraan.
Pemkab Maros pun menyatakan komitmennya untuk terus mendukung program serupa, baik melalui bantuan pertanian maupun pendampingan langsung kepada petani.
Lonjakan 140 persen di Tompobulu menjadi bukti: ketika benih unggul, pupuk tepat guna, teknologi, dan pendampingan berjalan seiring, produktivitas bukan lagi sekadar target—melainkan hasil nyata di lapangan. (ADS/PKT)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















