Pranala.co, SAMARINDA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim kembali menyalurkan insentif bagi 25 ribu tenaga pendidik alais guru honorer di seluruh kabupaten dan kota.
Bukan hanya guru SD atau SMP, tapi juga guru PAUD, TK, guru pondok pesantren, dan guru ngaji di TPA. Semua menerima langsung melalui transfer ke rekening masing-masing penerima.
Langkah ini menjadi bukti nyata komitmen Pemprov Kaltim dalam meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik non-PNS, terutama mereka yang mengabdi di pelosok daerah.
Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Kaltim, Dasmiah, menjelaskan program ini merupakan tindak lanjut janji Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim untuk menyejahterakan guru-guru honorer.
“Selama ini insentif memang sudah diberikan, tapi kami melihat masih ada kesenjangan cukup besar antara guru PNS dan non-PNS, terutama di daerah pedalaman,” kata Dasmiah, Kamis (9/10).
Karena itu, Pemprov Kaltim memfokuskan bantuan tambahan bagi guru honorer di wilayah terpencil dan perkebunan sawit. Mereka umumnya adalah guru PAUD berijazah SMA, namun tetap setia mengajar anak-anak usia dini tanpa kenal lelah.
Dasmiah menyebut, tambahan insentif Rp500 ribu per bulan mungkin terlihat kecil di kota, tapi sangat berarti bagi guru-guru di pedalaman.
“Banyak guru honorer hanya menerima gaji sekitar satu juta rupiah per bulan. Tambahan ini sungguh membantu. Saya tahu betul karena saya juga pernah menjadi guru honorer,” ujarnya dengan nada haru.
Program ini telah menjangkau banyak daerah seperti Mahakam Ulu, Berau, Penajam Paser Utara, dan Paser, serta terus diperluas ke wilayah lain di Kaltim.
Lebih dari sekadar bantuan finansial, Dasmiah menegaskan bahwa kebijakan ini adalah bagian dari upaya besar Pemprov Kaltim dalam membangun sumber daya manusia (SDM) unggul dan berkualitas.
“Motivasi guru adalah fondasi dari pendidikan yang kuat. Kalau gurunya sejahtera dan semangat, murid pun akan tumbuh dengan baik,” katanya.
Selain insentif guru, Pemprov Kaltim juga mempercepat pelaksanaan Program Gaspol Pendidikan. Program ini menargetkan peningkatan rata-rata lama sekolah yang kini masih berada di posisi ke-7 nasional.
Melalui beasiswa dan bantuan pendidikan, pemerintah mendorong agar anak-anak Kaltim bisa menempuh pendidikan lebih tinggi tanpa terkendala ekonomi.
“Bantuan ini terbuka untuk semua. Tidak memandang latar belakang ekonomi, baik keluarga mampu maupun tidak,” jelas Dasmiah.
Dasmiah berharap masyarakat, terutama anak-anak usia kuliah, bisa memanfaatkan kesempatan ini. Ia ingin melihat setiap kabupaten dan kota di Kaltim memiliki generasi muda yang cerdas, berpendidikan, dan siap bersaing di tingkat nasional maupun global.
“Pendidikan adalah kunci. Kalau kita ingin Kaltim maju, kesejahteraan guru dan semangat belajar anak-anak harus kita jaga,” harap Dasmiah. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami
















