Pranala.co, BONTANG – Banjir rob yang kerap menggenangi akses menuju kawasan wisata Bontang Kuala masih menjadi tantangan bagi Pemerintah Kota Bontang. Namun, di balik persoalan tersebut, muncul gagasan baru yang dinilai tidak hanya menjadi solusi alternatif, tetapi juga berpotensi membuka destinasi wisata berbasis sungai.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Dispopar-Ekraf) Kota Bontang Eko Mashudi, menilai banjir rob memang menghambat akses darat menuju Bontang Kuala. Meski demikian, ia menegaskan kondisi tersebut tidak terjadi setiap hari dan tidak semestinya mematikan aktivitas wisata.
“Banjir rob itu tidak tiap hari. Masyarakat tetap bisa datang dan beraktivitas. Jadi, wisata di Bontang Kuala jangan selalu dipersempit hanya karena rob,” ujar Kepala Dispopar-Ekraf Bontang, Eko Mashudi.
Eko menjelaskan, pemerintah provinsi sebelumnya sempat menyampaikan rencana pembangunan infrastruktur jalan. Namun, karena status jalan menuju Bontang Kuala merupakan jalan nasional, kewenangannya berada di pemerintah pusat.
Sebagai solusi yang memungkinkan dalam waktu dekat, pembangunan trotoar di sisi kiri dan kanan jalan dinilai dapat menjadi akses alternatif saat air pasang.
“Trotoar itu nantinya bisa dimanfaatkan sebagai jalur tambahan. Teknisnya tentu teman-teman di PUPR yang lebih memahami,” katanya.
Lebih jauh, Eko mengemukakan gagasan yang disebutnya cukup berani, yakni mengalihkan akses wisata melalui jalur air saat banjir rob melanda. Wisatawan dapat menuju Bontang Kuala menggunakan perahu atau sampan melalui Sungai Bontang.
“Kenapa tidak kita buat seperti di Italia? Saat air pasang, wisatawan masuk ke Bontang Kuala naik perahu atau sampan lewat sungai,” ujarnya.
Ia menyebut konsep tersebut terinspirasi dari kota-kota di Italia yang memanfaatkan jalur air sebagai sarana transportasi sekaligus daya tarik wisata.
Menurut Eko, potensi Sungai Bontang cukup menjanjikan. Ia mengaku pernah menyusuri aliran sungai tersebut dan menemukan panorama alam yang indah, terutama pada sore hari. Selain pemandangan yang asri, kawasan itu juga menjadi habitat burung endemik khas Bontang, seperti kuntul perak.
“Kalau sore hari itu cantik. Sering terlihat burung kuntul perak. Potensi wisatanya besar sekali,” ungkapnya.
Meski demikian, Eko menegaskan aspek keamanan dan kenyamanan harus menjadi prioritas sebelum gagasan tersebut direalisasikan. Selain itu, persoalan sampah di sepanjang sungai perlu dibenahi secara serius.
“Masalahnya memang di sampah. Ini harus kita selesaikan dulu. Wisata sungai tidak akan menarik kalau lingkungannya kotor,” tegasnya.
Ia menambahkan, pengembangan wisata sungai harus dirancang secara matang dengan melibatkan lintas sektor, mulai dari infrastruktur, kebersihan, hingga keselamatan pengunjung.
Eko optimistis konsep wisata sungai dapat memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar. Warga yang memiliki perahu atau sampan dapat dilibatkan sebagai pelaku usaha dengan menyewakan armadanya kepada wisatawan.
“Efek ekonominya langsung ke masyarakat. Yang punya sampan bisa menyewakan, ada tambahan penghasilan. Wisata tidak hanya dinikmati pengunjung, tapi juga menghidupi warga,” jelas Kepala Dispopar-Ekraf Bontang, Eko Mashudi. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















