BONTANG, Pranala.co – Keluhan warga terkait melonjaknya tagihan air di Bontang akhirnya dijawab langsung oleh Perumda Tirta Taman Bontang. Direktur Utama, Suramin, menegaskan bahwa penyebab utama bukan kenaikan tarif semata, melainkan pola pemakaian air yang tidak wajar oleh sebagian pelanggan.
Menurut Suramin, beberapa bulan terakhir pihaknya menemukan sejumlah rumah tangga menggunakan air jauh di atas batas normal. Jika rata-rata konsumsi wajar rumah tangga berkisar 40–47 meter kubik per bulan, ada pelanggan yang tercatat memakai hingga 140 meter kubik.
“Kalau pemakaian setinggi itu, otomatis tagihan ikut naik. Inilah yang dirasakan masyarakat setelah ada penyesuaian tarif,” ujar Suramin, Jumat (3/4/2026) malam melalui sambungan telepon kepada pranala.co.
Peningkatan konsumsi ini dipicu beberapa faktor. Salah satunya penggunaan satu sambungan untuk beberapa rumah sekaligus. Bahkan ada kasus satu meteran dipakai oleh enam kepala keluarga. Selain itu, ditemukan juga sambungan yang digunakan untuk beberapa pintu usaha dan instalasi bocor yang tidak dilaporkan.
“Kadang air terbuang dari tandon, bocor dibiarkan, atau dipakai bersama-sama. Karena tarif sebelumnya murah, jadi tidak terasa. Begitu tarif naik, baru terasa besar,” jelasnya.
Suramin menekankan, kebutuhan dasar air untuk rumah tangga sebenarnya hanya sekitar 10 meter kubik per bulan, dengan toleransi hingga 20 meter kubik. Sebagai gambaran, 20 meter kubik setara hampir 100 drum air, dan tagihan seharusnya masih di bawah Rp100 ribu per bulan, termasuk beban tetap.
“Kalau sampai 30 kubik, paling tinggi sekitar Rp150 ribu. Tapi jika sudah 60 kubik, apalagi dipakai ramai-ramai, tagihannya jadi mahal,” terangnya. Ia menambahkan, jika konsumsi melebihi 30 meter kubik, besar kemungkinan ada aktivitas usaha di dalam rumah, sehingga tidak lagi murni kategori rumah tangga.
Penggunaan satu sambungan untuk banyak rumah juga berdampak pada cakupan layanan air bersih, yang saat ini baru mencapai sekitar 54 persen. Padahal target nasional pada 2030 adalah 80 persen.
“Kalau satu meteran dipakai tiga sampai empat rumah, artinya ada warga lain yang belum terlayani. Ini menyulitkan peningkatan cakupan layanan,” kata Suramin.
Untuk mengatasi persoalan ini, Perumda mendorong pemilik rumah sewa memasang meteran air terpisah di setiap unit. Selain lebih adil, cara ini menekan tagihan karena pemakaian air tidak menumpuk dalam satu sambungan yang berpotensi masuk ke tarif lebih tinggi.
“Kalau 60 kubik dibagi dua meteran, masing-masing jadi 30 kubik. Tarifnya lebih murah dibandingkan ditumpuk dalam satu sambungan,” jelas Suramin.
Ia juga mengingatkan pentingnya penggunaan air secara bijak. Masyarakat diimbau hemat dan tidak membiarkan kebocoran terjadi. Jika menemukan masalah seperti kualitas air menurun atau dugaan kebocoran, pelanggan diminta segera melapor agar bisa ditangani cepat.
Bagi warga yang sudah terlanjur menghadapi tagihan tinggi, Perumda membuka opsi keringanan berupa pembayaran cicilan.
“Silakan datang ke kantor, pasti kami carikan solusi. Yang penting, ke depan pemakaian air bisa lebih terkontrol,” pungkas Suramin. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















