Pranala.co, BONTANG — Sudah tahu seragam akan dibagikan gratis. Tapi apa daya, anak-anak keburu malu. Orang tua pun akhirnya harus merogoh kantong lebih dalam untuk membeli seragam baru. Itu terjadi di Bontang, menyusul penyaluran seragam sekolah dari pemerintah yang dinilai lamban.
“Iya, katanya sih seragam gratis. Tapi sampai sekarang belum dibagikan juga. Anak saya sudah ogah ke sekolah karena masih pakai seragam SD,” keluh Ir, warga Kelurahan Kanaan, Senin (21/7/2025).
Anaknya baru masuk SMP. Namun, karena belum dapat seragam putih biru dari sekolah, ia tetap mengenakan seragam lama. Hasilnya: ejekan dari teman, dan akhirnya mogok sekolah.
“Daripada dia bolos dan makin ketinggalan pelajaran, saya belikan saja. Mau bagaimana lagi,” ucapnya pasrah.
Cerita yang sama juga datang dari Lin, warga Kelurahan Tanjung Laut. Anak perempuannya baru masuk SD. Tapi karena seragam putih merah belum juga dibagikan, ia harus membeli sendiri.
“Anak-anak itu enggak peduli kita lagi punya uang atau enggak. Yang penting sama seperti temannya. Jadi tetap saya belikan,” ujarnya.
Bukan Soal Gratis, Tapi Soal Waktu
Pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) sebenarnya punya niat baik. Mereka menyediakan seragam gratis untuk siswa baru kelas 1 SD dan 7 SMP. Namun, proses distribusi yang molor membuat tujuan program ini jadi bias.
“Kalau memang sudah tahu kapan siswa baru mulai masuk, harusnya seragam itu sudah dibagikan sebelum hari pertama sekolah,” ucap Lin, menyayangkan.
Tak sedikit warga yang mengaku kecewa. Mereka menilai program bagus ini jadi tidak efektif karena perencanaannya kurang matang.
“Kalau orang kaya, enggak masalah. Tapi yang gajinya pas-pasan? Untuk makan saja kadang bingung. Ini malah disuruh beli seragam,” kata Rn, warga Bontang Lestari.
Celah Terbukanya Praktik Jual Beli Seragam
Penundaan distribusi ini juga dinilai membuka peluang bagi munculnya kembali praktik jual beli seragam di sekolah negeri. Meski sudah dilarang, faktanya sebagian orang tua tetap membeli lewat jalur tidak resmi karena merasa terdesak.
“Kalau dibagi sejak hari pertama, mungkin ceritanya beda. Tapi ini anak sudah masuk sekolah dulu, baru seragamnya nyusul,” keluh warga lainnya.
Padahal, praktik jual beli seragam di sekolah negeri dilarang tegas. Pemerintah sudah menganggarkan bantuan. Tapi ketika distribusi terlambat, kebutuhan mendesak membuat orang tua mencari jalan pintas.
Disdikbud: Distribusi Bertahap, Target Akhir Juli
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bontang, Saparuddin, memastikan bahwa distribusi seragam tetap berjalan. Namun dilakukan bertahap, dimulai dari siswa kelas 1 SD dan 7 SMP negeri.
“Kami optimistis akhir Juli semua sudah menerima. Ini masih proses distribusi,” katanya.
Hingga saat ini, proses pembagian masih berlangsung. Tapi bagi sebagian orangtua, itu sudah terlambat. Mereka terlanjur beli. Terlanjur kecewa.
Dan yang lebih disayangkan: anak-anak pun sudah terlanjur merasa malu.
















