SAMARINDA, Pranala.co — Pemerintah Kota Samarinda menunjukkan langkah serius dalam menuntaskan persoalan sampah. Melalui percepatan pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), kota ini bersiap mengubah beban lingkungan menjadi sumber energi.
Komitmen tersebut ditegaskan Wali Kota Samarinda, Andi Harun, saat menerima audiensi Kementerian Lingkungan Hidup di Balai Kota, Sabtu (28/3/2026). Audiensi ini merupakan tindak lanjut dari penugasan Presiden dalam mempercepat pembangunan PSEL di berbagai daerah. Samarinda pun masuk dalam daftar 33 wilayah yang diproyeksikan menjadi bagian dari program strategis nasional tersebut.
Dalam pertemuan itu, perwakilan KLH, Amsor, menjelaskan konsep PSEL yang akan dikembangkan. Sistem ini dirancang untuk menggantikan metode penimbunan sampah (landfill) menjadi pengolahan berbasis energi.
“Konsepnya, sampah diolah menjadi energi listrik dan hasilnya dibeli oleh PLN untuk kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Menariknya, proyek ini akan menggunakan skema investasi melalui Danantara tanpa membebani pemerintah daerah dengan biaya tipping fee, yang selama ini menjadi kendala dalam pengelolaan sampah.
Namun, daerah yang ingin terlibat wajib memenuhi sejumlah persyaratan, seperti kesiapan lahan, pembiayaan pengangkutan sampah, hingga sistem pengelolaan di tingkat Tempat Penampungan Sementara (TPS).
Menanggapi hal tersebut, Andi Harun menegaskan kesiapan penuh Pemerintah Kota Samarinda untuk berpartisipasi dalam program tersebut.
“Kalau ditanya siap, kami sangat siap. Bahkan tanpa aglomerasi pun, saya langsung setuju,” tegasnya.
Saat ini, volume sampah di Samarinda mencapai sekira 600 ton per hari, berasal dari sektor rumah tangga dan aktivitas komersial. Jumlah ini belum termasuk sampah kiriman dari sungai yang turut menyumbang timbulan sampah.
Sebagai bagian dari kesiapan, Pemkot Samarinda telah melakukan pembenahan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sambutan. Sistem yang sebelumnya menggunakan metode open dumping kini telah beralih ke sanitary landfill, lengkap dengan fasilitas pengolahan air lindi.
Langkah ini menjadi fondasi penting dalam mendukung sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan ramah lingkungan.
Meski optimistis, Andi Harun mengakui masih ada tantangan yang perlu diatasi, terutama terkait pembiayaan pengangkutan sampah jika melibatkan wilayah penyangga seperti Tenggarong, Handil, Muara Badak, hingga Marang Kayu.
“Persoalan utama ada di biaya angkut. Ini yang sedang kami hitung, apalagi di tengah efisiensi anggaran,” jelasnya.
Untuk itu, ia mendorong keterlibatan pemerintah provinsi dalam mendukung pembiayaan lintas daerah agar proyek ini dapat berjalan lebih cepat dan optimal.
Sebagai tindak lanjut, Pemkot Samarinda akan segera menyusun kajian teknis serta surat kesiapan sebagai syarat pengajuan resmi program PSEL.
Andi Harun menilai proyek ini bukan sekadar solusi pengelolaan sampah, tetapi juga langkah strategis dalam menyediakan energi alternatif.
“Ini solusi konkret. Sampah selesai, energi juga dihasilkan,” ujar Wali Kota Samarinda. (RIL/DIAS)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















