Pranala.co, SAMARINDA — Langit Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) berubah menjadi kanvas raksasa akhir pekan ini. Puluhan layang-layang dengan beragam bentuk dan warna menari di udara dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Layang-Layang yang digelar sejak Jumat hingga Minggu.
Ajang ini menjadi momentum penting bagi Persatuan Layang-Layang Seluruh Indonesia (Pelangi) Kalimantan Timur untuk menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu pusat prestasi olahraga rekreasi nasional.
Kejurnas tersebut berlangsung di kawasan eks Bandara Temindung, Samarinda, dan berada di bawah naungan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI). Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga mempererat silaturahmi antarpenggiat layang-layang dari berbagai daerah di Indonesia.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur, Muhammad Faisal, secara langsung menyerahkan piala dan hadiah kepada para pemenang pada Minggu (8/2/2026). Dalam sambutannya, Faisal menyampaikan apresiasi kepada Pelangi Kaltim atas konsistensinya mengembangkan olahraga tradisional tersebut.
Ia juga mengungkapkan rencana ambisius ke depan, yakni menggelar kegiatan pemecahan Rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dengan menerbangkan ribuan layang-layang secara bersamaan.
“Ke depan, kami berencana mengadakan pemecahan Rekor MURI dengan menaikkan sekitar 3.000 layang-layang secara serentak,” ujar Faisal.
Ketua Pelangi Kaltim, Alwi H, menyampaikan bahwa antusiasme peserta sangat tinggi. Tercatat sebanyak 96 peserta ambil bagian dalam kejuaraan ini, mulai dari pemain muda hingga atlet profesional.
Peserta tidak hanya berasal dari kabupaten dan kota di Kalimantan Timur seperti Balikpapan, Bontang, Sangatta, Berau, Penajam Paser Utara, dan Paser, tetapi juga datang dari sejumlah daerah di Pulau Jawa, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, serta provinsi tetangga, Kalimantan Utara.
Dalam pertandingan, peserta diuji melalui sistem gugur. Layang-layang yang sobek saat bertanding atau menyentuh tanah dinyatakan gugur. Penentuan pemenang dilakukan melalui adu keterampilan dengan gaya bebas (freestyle). Ketinggian terbang dibatasi sekitar 50 meter, dengan kebebasan menggunakan benang berbahan nilon maupun katun.
Selain sebagai ajang silaturahmi nasional, Kejurnas ini juga menjadi sarana seleksi atlet yang akan mewakili Kalimantan Timur pada Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS) mendatang.
Total hadiah yang diperebutkan mencapai Rp20 juta. Rinciannya, juara pertama memperoleh Rp9 juta, juara kedua Rp5,3 juta, dan juara ketiga Rp3 juta. Sementara itu, peringkat harapan I hingga III masing-masing mendapatkan Rp500 ribu, serta 12 peserta terbaik memperoleh Rp200 ribu.
Alwi berharap Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Dispora dapat memberikan dukungan yang lebih konkret bagi para atlet layang-layang agar prestasi yang telah diraih dapat terus ditingkatkan.
Ia juga menilai olahraga layang-layang memiliki dampak sosial yang positif, terutama bagi generasi muda. Menurutnya, aktivitas tersebut dapat menjadi alternatif sehat untuk mengurangi ketergantungan anak-anak terhadap gawai.
“Kami ingin mengajak anak-anak sekolah kembali aktif bermain di luar ruangan. Bermain layang-layang itu menyehatkan, dilakukan di bawah sinar matahari dari pagi hingga sore. Ini sekaligus menjadi cara efektif untuk mengurangi ketergantungan pada gadget,” tutup Alwi. (RIL/SON)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















