Pranala.co, BONTANG – Komitmen memperkuat ketangguhan bisnis terus dilakukan PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim). Perusahaan pupuk berskala nasional itu menggelar Drilling Test Business Continuity Management System (BCMS) mengacu pada standar SNI ISO 22301:2019, sebagai bagian dari implementasi Sistem Manajemen Kelangsungan Usaha (SMKU) yang telah tersertifikasi.
Simulasi tersebut dirancang untuk menguji kesiapan organisasi menghadapi situasi krisis berdampak tinggi. Skenario yang diangkat bukan perkara ringan: ancaman aksi terorisme di lingkungan perusahaan yang berpotensi membahayakan keselamatan karyawan, aset strategis, dan keberlangsungan operasional.
Dalam simulasi, kondisi bermula dari ancaman anonim terkait dugaan adanya bom di kawasan pabrik. Perusahaan kemudian meningkatkan kewaspadaan internal, memperketat pengamanan area sensitif, serta melakukan koordinasi lintas fungsi.
Situasi berkembang dengan skenario ledakan pada fasilitas pendukung operasional yang berdampak pada gangguan suplai energi. Sistem proteksi proses diaktifkan, diikuti pembentukan Command Center serta asesmen dampak menyeluruh.
Berdasarkan penilaian lintas fungsi, manajemen menetapkan eskalasi kondisi darurat dan mengaktifkan Business Continuity Plan (BCP). Langkah ini bertujuan memastikan fungsi-fungsi kritikal tetap berjalan sembari menyiapkan pemulihan secara terstruktur dan terkoordinasi.
Direktur Manajemen Risiko Pupuk Kaltim, Teguh Ismartono, menyebut drilling test BCMS sebagai langkah strategis memperkuat budaya kesiapsiagaan dan tata kelola risiko berkelanjutan.
“BCMS menjadi kerangka kerja strategis Pupuk Kaltim untuk memastikan perusahaan tetap mampu melindungi, menjaga proses bisnis, dan memenuhi tanggung jawab operasional, bahkan dalam kondisi paling sulit sekalipun,” ujarnya saat mengikuti kegiatan tersebut, Jumat (23/1/2026).
Teguh menegaskan, sebagai industri strategis nasional, perusahaan tidak dapat memandang risiko secara parsial. Gangguan operasional yang bersumber dari faktor alam, teknologi, hingga ancaman keamanan seperti terorisme dan serangan siber, berpotensi berdampak luas terhadap keselamatan, reputasi, serta kinerja perusahaan.
Dalam setiap skenario darurat, keselamatan jiwa menjadi prioritas utama. Namun pada saat yang sama, perusahaan juga dituntut memastikan gangguan tidak berkembang menjadi krisis berkepanjangan.
“Pada situasi krisis, kecepatan respons harus berjalan seiring dengan ketepatan keputusan. Karena itu kami menguji bagaimana sistem bekerja secara nyata, agar koordinasi lintas fungsi benar-benar terbangun,” tambahnya.
Selain menguji kesiapan, simulasi juga menjadi sarana evaluasi objektif untuk mengidentifikasi area yang masih perlu diperkuat. Hasilnya akan digunakan sebagai dasar penyempurnaan sistem, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan integrasi antara manajemen risiko, manajemen krisis, dan kelangsungan usaha.
VP Manajemen Risiko Korporasi sekaligus penanggung jawab implementasi BCMS, Lisa Handayani, menegaskan bahwa penerapan ISO 22301:2019 tidak sekadar memenuhi aspek kepatuhan administratif.
“BCMS tidak bisa hanya dipahami sebatas pemenuhan standar. Sistem harus diuji dengan skenario krisis yang realistis dan berdampak tinggi. Simulasi ini menunjukkan bagaimana BCMS bekerja secara menyeluruh, mulai dari identifikasi ancaman hingga aktivasi rencana keberlanjutan bisnis,” jelas Lisa.
Menurutnya, keberhasilan BCMS tidak hanya ditentukan oleh kualitas prosedur, tetapi juga pemahaman dan konsistensi seluruh insan organisasi dalam menjalankannya.
“BCMS bukan sekadar siap di atas kertas, tetapi memastikan organisasi benar-benar tangguh ketika krisis terjadi,” tutupnya. (ADS/PKT)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















