SANGATTA, Pranala.co — Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Tuah Benua Kutai Timur (Kutim) memastikan seluruh sistem intake air baku kini lebih aman dan siap menghadapi potensi banjir. Jaminan ini disampaikan menyusul tingginya intensitas hujan serta risiko luapan Sungai Sangatta yang mulai mengancam.
Direktur Teknik Perumdam Tirta Tuah Benua Kutim, Galuh Boyo Munanto, mengungkapkan bahwa penyesuaian signifikan telah dilakukan pada desain dan model intake. Perubahan ini bertujuan agar infrastruktur lebih adaptif terhadap fluktuasi muka air sungai yang kerap tidak menentu.
Saat ini, Perumdam mengoperasikan 24 unit intake yang tersebar di sejumlah wilayah. Rinciannya, 12 unit ponton, 5 unit jembatan, 6 unit sumuran, dan 1 unit bronkaptering.
Menurut Galuh, khusus di wilayah Kudungga, intake menggunakan model ponton atau floating yang dinilai paling aman terhadap perubahan tinggi muka air.
“Model ponton lebih adaptif terhadap naik turunnya muka air baku yang fluktuatif, sehingga relatif aman saat terjadi perubahan level sungai,” ujar Galuh di Sangatta, Senin (30/3/2026).
Sementara itu, intake tipe tetap seperti sumuran telah dibangun dengan mempertimbangkan elevasi berdasarkan data historis. Konstruksi ini memastikan unit tetap berfungsi dalam kondisi normal.
Meskipun demikian, Perumdam mencatat pernah terjadi gangguan operasional akibat banjir ekstrem pada 2022. Saat itu, dua unit intake terdampak hingga harus dihentikan sementara selama 42 hingga 72 jam.
“Tahun 2022 ada riwayat dua intake terdampak banjir ekstrem yang mengakibatkan unit sempat harus shutdown 42–72 jam (tiga hari) demi keamanan instalasi,” ungkapnya.
Penghentian operasional tersebut sempat mengganggu layanan air bersih kepada masyarakat. Untuk mengantisipasi dampak serupa, Perumdam kini melakukan pemberitahuan kepada warga agar menyiapkan cadangan air. Selain itu, perusahaan juga menyiagakan bantuan air bersih menggunakan truk tangki.
Galuh menambahkan bahwa banjir tidak hanya mengganggu layanan, tetapi juga berdampak pada operasional perusahaan secara keseluruhan. Beberapa dampak yang dihadapi antara lain kebutuhan pembersihan fasilitas intake dari sampah dan endapan lumpur, serta potensi kehilangan pendapatan akibat terhentinya distribusi air. (HAF)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















