SAMARINDA, Pranala.co — Waktu tinggal empat hari. Tapi pekerjaan belum selesai. Kutai Kartanegara (Kukar) masih punya 191 desa dan kelurahan yang belum membentuk Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kel) Merah Putih. Tenggatnya: 28 Mei 2025.
“Harus kerja cepat,” kata Sekda Kukar, Sunggono, lugas dan tegas. Ia baru saja keluar dari Pendopo Odah Etam, Samarinda, Sabtu (24/5), setelah menghadiri peluncuran percepatan Musyawarah Desa/Kelurahan Khusus (Musdesus) se-Kaltim untuk pembentukan Kopdes/Kel.
Kalau terlambat, Kukar bakal jadi sorotan. Sementara Kalimantan Timur—tempat ibu kota negara akan bernaung—ditarget menyelesaikan semuanya sebelum Juni datang.
Kopdes/Kel Merah Putih bukan program biasa. Ia lahir dari rahim Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025. Targetnya ambisius: membentuk 80 ribu koperasi desa di seluruh Indonesia.
Tujuannya jelas; memberdayakan ekonomi desa. Melawan tengkulak. Menutup celah pinjaman online ilegal. Memberi akses modal ke akar rumput. Dan tentu, membuka lapangan kerja dari kampung sendiri.
Wakil Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, yang hadir langsung, menyebut Koperasi Merah Putih sebagai pilar ekonomi kerakyatan masa depan. Ia ingin koperasi kembali ke khitah: alat perjuangan ekonomi rakyat.
Sekda Sunggono tak mau menunggu. “Para camat akan segera kami kumpulkan. Dibentuk tim kerja cepat di setiap kecamatan. Tidak bisa ditunda lagi,” katanya.
Ia sadar, tantangan di lapangan tak sederhana. Butuh pemahaman, butuh pendampingan. Tapi waktu tak menunggu. Dan Kukar tidak ingin tertinggal.
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, menenangkan suasana. Ia menyebut lebih dari separuh wilayah Kaltim sudah menyelesaikan Musdesus. “Sisanya akan kami kebut. Sudah sepakat dengan bupati dan wali kota: selesai sebelum tanggal 28 Mei,” ujarnya optimis.
Acara peluncuran percepatan ini memang bukan acara biasa. Hadir tokoh-tokoh penting pusat: dari Kemenko Perekonomian, Kemendagri, hingga Kementerian Pertanian. Semua satu suara: koperasi adalah masa depan desa.
Dalam konsep besar pembangunan nasional, desa tak boleh lagi jadi penonton. Koperasi Merah Putih adalah skenario baru. Skema di mana desa jadi subjek, bukan objek. Pusat kekuatan ekonomi bukan lagi di kota, tapi dimulai dari desa.
Kini, Kukar punya PR besar. Empat hari, 191 titik, dan satu tenggat. Tapi seperti kata Sunggono, “Kalau semua bergerak, tak ada yang tak bisa selesai.” [DIAS]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami



















Comments 1