Pranala.co, TEHERAN – Korban jiwa akibat serangan rudal terhadap sekolah perempuan di Iran selatan telah meningkat menjadi 165 orang. Kantor berita IRNA mengutip jaksa setempat yang menyebut 96 orang lainnya terluka dalam serangan hari Sabtu (28/2/2026) di Minab.
Serangan terhadap Sekolah Putri Shadjareh Tayebeh menjadi peristiwa memakan korban massal terburuk dalam kampanye pemboman yang dipimpin Amerika Serikat dan Israel di Iran sejauh ini.
Video dan foto pasca kejadian yang telah diverifikasi keasliannya menunjukkan pemandangan mengerikan. Ratusan orang berkumpul di sekitar bangunan yang sebagian runtuh dan berasap. Puing-puing berserakan di jalan sementara para pria menggali reruntuhan untuk mencari korban. Jeritan terdengar di latar belakang.
Dalam beberapa gambar, tas sekolah dan buku pelajaran ditarik dari puing-puing. Gedung sekolah tersebut berdekatan dengan barak Korps Garda Revolusi Islam.
Kapten Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat Amerika Serikat, menyatakan pihaknya mengetahui laporan kerugian warga sipil. “Kami menanggapi laporan ini dengan serius dan sedang menyelidikinya,” ujarnya.
Hossein Kermanpour, juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, mengatakan dalam unggahan media sosial bahwa pemboman sekolah tersebut adalah “berita paling pahit” dari konflik sejauh ini. “Entah berapa banyak lagi jenazah anak-anak yang akan mereka keluarkan dari bawah reruntuhan.”
Peraih hadiah Nobel Perdamaian dan advokat pendidikan anak perempuan, Malala Yousafzai, menyampaikan pernyataan keras. “Mereka adalah anak perempuan yang bersekolah untuk belajar, dengan harapan dan impian untuk masa depan mereka. Saat ini, hidup mereka dipersingkat secara brutal.”
Malala menambahkan, “Keadilan dan akuntabilitas harus dipatuhi. Semua negara dan pihak harus menjunjung tinggi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional untuk melindungi warga sipil dan sekolah.”
Badan Pendidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menyatakan pemboman sekolah dasar tersebut merupakan pelanggaran berat terhadap hukum kemanusiaan.
Dalam pernyataan di media sosial, UNESCO menyampaikan kekhawatiran mendalam atas dampak serangan militer yang berlanjut hingga Minggu (1/3/2026).
UNESCO mencatat siswa di tempat yang didedikasikan untuk belajar dilindungi oleh hukum humaniter internasional. “Serangan terhadap lembaga pendidikan membahayakan siswa dan guru serta melemahkan hak atas pendidikan.” (RE)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















