Pranala.co, BONTANG — Menjelang bulan suci Ramadan, pemerintah pusat mulai mengetatkan pengawasan harga pangan di daerah. Upaya ini dilakukan untuk memastikan stabilitas harga dan melindungi daya beli masyarakat di tengah potensi lonjakan permintaan.
Tim Satuan Tugas (Satgas) Sapu Bersih Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan (Saber Pangan) Wilayah II Kalimantan Timur turun langsung ke Kota Bontang, Kamis (5/2/2026). Hasil awal monitoring dan evaluasi (monev) menunjukkan sejumlah komoditas pangan masih dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Sejak pagi hari, sekira pukul 08.00 Wita, tim menyisir sejumlah titik distribusi dan penjualan pangan. Lokasi yang dipantau antara lain Pasar Taman Rawa Indah, agen beras dan telur Mama Anjas, Agen Beras Om Taba, hingga ritel modern Era Fresh. Pemantauan difokuskan pada sembilan bahan pokok strategis yang berpengaruh langsung terhadap inflasi dan daya beli masyarakat.
Kegiatan monev ini melibatkan lintas instansi, mulai dari Bidang Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN), Badan Pangan Nasional (Bapanas), Polda Kalimantan Timur, Dinas Pangan Provinsi Kalimantan Timur, Bulog Cabang Samarinda, hingga unsur pemerintah daerah dan aparat penegak hukum di Kota Bontang.
Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda Badan Pangan Nasional, Lenny, mengatakan hasil sementara menunjukkan masih adanya pedagang yang menjual bahan pokok di atas ketentuan harga yang berlaku.
“Pemantauan belum selesai karena masih ada beberapa titik lagi yang akan kami datangi. Namun dari pantauan awal, memang ditemukan harga yang belum sesuai dengan HET,” ujar Lenny saat ditemui di Pasar Taman Rawa Indah.
Sebagai acuan, Peraturan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 299 Tahun 2025 menetapkan HET beras premium untuk Zona 2 sebesar Rp15.400 per kilogram, sedangkan beras medium Rp13.100 per kilogram. Adapun harga Minyak Kita ditetapkan maksimal Rp15.700 per liter. Kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi konsumen dari praktik penjualan yang merugikan.
Menanggapi temuan tersebut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang, Ahmad Aznem, menegaskan pemerintah daerah siap menindaklanjuti hasil monev Satgas Saber Pangan.
Menurutnya, kegiatan ini menjadi bahan evaluasi penting dalam menyusun langkah pengendalian harga, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri yang biasanya diiringi peningkatan permintaan.
“Tim Satgas dari pusat turun langsung dan kami mendampingi. Hasil pemantauan ini akan menjadi rekomendasi bagi kami di daerah. Selanjutnya akan dibahas bersama Satgas daerah untuk menentukan langkah lanjutan, khususnya pengendalian harga,” jelas Ahmad.
Fluktuasi harga pangan di Kota Bontang sendiri telah terlihat sejak akhir 2025. Kepala Bidang Ketahanan Pangan DKP3 Bontang, Debora Kristiani, menyebut harga beras premium sempat mencapai Rp17.000 per kilogram saat monev menjelang Natal 2025. Saat ini, harga tersebut turun menjadi sekitar Rp16.400 per kilogram, meski masih berada di atas HET.
Sementara itu, harga cabai justru mengalami lonjakan signifikan. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp40.000 per kilogram, kini harganya menembus Rp70.000 per kilogram.
“Kami berharap kenaikan ini tidak terus berlanjut,” kata Debora.
Ia menjelaskan, tingginya harga pangan di Bontang salah satunya dipengaruhi oleh biaya transportasi dari daerah produsen. Kondisi tersebut membuat harga barang sudah tinggi sejak diterima pedagang. Ke depan, keberadaan gudang Bulog di Bontang diharapkan mampu memperkuat cadangan pangan sekaligus membantu pemerintah dalam menstabilkan harga.
“Kalau gudang Bulog sudah terbangun, pengendalian harga akan jauh lebih optimal,” pungkasnya. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















