Pranala.co, BALIKPAPAN — Curah hujan berintensitas tinggi yang melanda Kota Minyak menyebabkan genangan di sejumlah titik serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir rob. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut hujan lebat tersebut dipicu oleh dinamika atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan aktif di wilayah Balikpapan.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, menjelaskan hujan lebat terjadi akibat pertumbuhan awan kumulonimbus.
Menurutnya, jenis awan tersebut dikenal membawa hujan deras dalam waktu relatif singkat, disertai angin kencang dan kilat. “Jika hujan besar terjadi, dampaknya memang langsung terasa,” ujar Djoko, Rabu (4/2/2026).
Djoko memaparkan, berdasarkan hasil pemantauan BMKG, curah hujan tercatat mencapai sekitar 47 milimeter yang masuk kategori hujan lebat hingga sangat lebat. Intensitas itu dinilai cukup untuk memicu genangan air di sejumlah titik, terutama di kawasan Jalan MT Haryono Balikpapan yang selama ini dikenal sebagai area langganan banjir.
Djoko menegaskan, genangan yang terjadi tidak dipengaruhi oleh pasang air laut. Saat hujan lebat mengguyur, kondisi air laut masih berada pada fase surut.
Karena pasang air laut baru mulai naik satu hingga dua jam setelah hujan. “Jadi genangan yang terjadi kemarin murni akibat curah hujan, bukan karena pasang laut,” jelasnya.
Lebih lanjut, Djoko mengingatkan risiko banjir dapat meningkat jika hujan lebat terjadi bersamaan dengan pasang air laut, mengingat sejumlah aliran sungai di Balikpapan bermuara langsung ke laut.
“Kalau hujan dengan intensitas seperti ini bertemu pasang laut, itu bisa memicu banjir rob,” ungkapnya. Tambahnya, bahkan tanpa pasang air laut pun, di beberapa titik Balikpapan sudah terjadi genangan.
Di samping itu, Djoko memaparkan kondisi cuaca di Kalimantan Timur saat ini turut dipengaruhi fenomena La Nina lemah. Di mana, perlambatan kecepatan angin di wilayah Pulau Kalimantan, serta meningkatnya suhu muka laut di perairan Selat Makassar.
Kombinasi faktor ini mendorong peningkatan aktivitas konvektif dan pertumbuhan awan hujan. Di satu sisi, kelembapan udara yang cukup tinggi di seluruh lapisan atmosfer juga mendukung terbentuknya awan hujan.
Alhasil, peluang hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih terbuka. Lebih jauh, kata Djoko, BMKG telah mengeluarkan imbauan kewaspadaan cuaca ekstrem untuk wilayah Kalimantan Timur pada periode 31 Januari hingga 1 Februari 2026.
Sebab dalam periode tersebut, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang berpotensi disertai kilat dan angin kencang diprakirakan dapat terjadi, termasuk di Kota Balikpapan.
Bahkan tidak hanya Balikpapan, sejumlah wilayah lain juga diminta meningkatkan kewaspadaan. Baik itu wilayah Kabupaten Mahakam Ulu, Kabupaten Berau, Kabupaten Kutai Timur, Kota Bontang, Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Paser, dan Kabupaten Penajam Paser Utara.
Djoko mengingatkan bahwa dampak cuaca ekstrem tidak hanya menimbulkan genangan dan banjir, tetapi juga berpotensi memicu banjir rob, angin kencang, hingga pohon tumbang, terutama di wilayah pesisir dan kawasan rawan.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar tetap waspada, memantau perkembangan cuaca, serta segera melakukan langkah antisipasi saat hujan lebat terjadi. (SR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















