Pranala.co, SANGATTA — Awal tahun kembali dibuka dengan genangan air. Hujan yang turun dengan intensitas tinggi membuat banjir merendam sejumlah permukiman warga di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kamis (5/2/2026). Dua kecamatan terdampak paling parah: Sangatta Selatan dan Sangatta Utara.
Air datang perlahan, lalu naik tanpa banyak kompromi. Di Sangatta Selatan, genangan terpantau di kawasan Kampung Kajang. Air mengalir dari Jalan Hasanuddin hingga masuk ke Gang Loa Mali, termasuk wilayah RT 001 Desa Sangatta Selatan. Akses keluar-masuk permukiman nyaris terputus. Beberapa titik bahkan tergenang hampir merata.
Sementara itu, di Sangatta Utara, kondisi serupa terjadi di Gang Majai, kawasan Sangatta Lama, Jalan Rudina, Gang Borneo, serta Teluk Lingga Gang Bone. Air mulai memasuki rumah-rumah warga sejak hujan lebat mengguyur wilayah tersebut.
Akibatnya, aktivitas masyarakat terganggu. Sebagian warga memilih membatasi mobilitas. Ada yang tetap bertahan di rumah, ada pula yang siaga memantau ketinggian air dari waktu ke waktu.
“Ini bukan pertama kali,” ujar Enal, warga Gang Bone, Sangatta Utara.
Menurutnya, banjir yang datang kali ini kembali dipicu air kiriman dari wilayah hulu. Polanya nyaris sama seperti kejadian sebelumnya.
“Tahun ini sudah dua kali kami dapat kiriman banjir dari hulu. Kadang di Sangatta tidak hujan, tapi tetap kebanjiran,” katanya.
Enal menyebutkan, hingga siang hari sebagian besar warga masih bertahan di rumah masing-masing. Belum ada evakuasi besar-besaran, meski debit air terus dipantau.
Ketinggian genangan pun bervariasi. Di beberapa titik, air hanya mencapai lutut orang dewasa. Namun di bagian belakang permukiman, kondisinya jauh lebih mengkhawatirkan.
“Yang di belakang ada yang sampai sedada orang dewasa,” ujarnya.
Di Sangatta Selatan, warga merasakan karakter banjir yang sedikit berbeda. Di kawasan Jalan Hasanuddin hingga Gang Loa Mali, air merendam hampir seluruh akses permukiman, termasuk area belakang Hotel Kristal.
Seorang warga setempat, yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan, mengungkapkan adanya kejanggalan pada kondisi air.
“Airnya tidak seperti banjir biasanya. Bercampur pasir dan warnanya agak memutih,” tuturnya.
Dugaan pun muncul. Warga menilai banjir kali ini tidak sepenuhnya disebabkan oleh faktor cuaca. Ada kekhawatiran perubahan aliran air atau aktivitas tertentu di wilayah hulu turut memengaruhi kondisi tersebut.
Harapan warga pun mengarah pada langkah konkret. Mereka meminta pemerintah daerah dan pihak terkait menelusuri penyebab banjir secara menyeluruh.
Normalisasi drainase, pengawasan kawasan hulu, hingga pemetaan daerah rawan banjir dinilai perlu segera dilakukan agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim hujan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai jumlah rumah terdampak maupun warga yang mengungsi. Namun masyarakat diminta tetap waspada, mengingat potensi hujan dengan intensitas tinggi masih diperkirakan terjadi dalam beberapa hari ke depan. (HAF)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















