Pranala.co, SAMARINDA – Geliat ekonomi digital di Kalimantan Timur (Kaltim) terus menunjukkan tren positif. Pada kuartal III 2025, nilai transaksi sistem pembayaran yang diproses melalui infrastruktur Bank Indonesia mencapai Rp119,82 triliun. Angka tersebut tumbuh 8,59 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dan melampaui capaian periode sebelumnya.
Dari sisi volume, total transaksi tercatat sebanyak 25,11 juta atau meningkat 14,46 persen (yoy). Meski demikian, laju pertumbuhan volume terpantau sedikit melambat dibandingkan kuartal-kuartal sebelumnya.
Dalam laporan perekonomian Kaltim yang dirilis Rabu (11/2/2026), Bank Indonesia menyebut tingginya penggunaan layanan transfer instan menjadi salah satu pendorong utama.
“Peningkatan penggunaan BI-FAST sejalan dengan pergeseran preferensi masyarakat kepada pembayaran nontunai yang lebih cepat, mudah, aman, dan berbiaya rendah,” demikian keterangan resmi laporan tersebut.
Sebagai lokomotif sistem pembayaran ritel, BI-FAST mencatat pertumbuhan nominal 8,13 persen (yoy). Sebaliknya, transaksi melalui SKNBI mengalami kontraksi tajam sebesar 16,49 persen (yoy).
Pada segmen transaksi bernilai besar, sistem Real Time Gross Settlement (RTGS) menunjukkan performa impresif dengan pertumbuhan 14,94 persen (yoy). Capaian ini mencerminkan aktivitas korporasi dan institusi keuangan yang tetap dinamis di tengah perkembangan ekonomi regional.
Instrumen pembayaran digital berbasis kode respons cepat, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), menjadi sorotan utama. Nominal transaksi QRIS melonjak 152 persen (yoy), sedangkan volumenya meroket 234 persen (yoy). Pertumbuhan tersebut mengukuhkan QRIS sebagai pilihan utama masyarakat dalam transaksi ritel sehari-hari.
Sementara itu, transaksi menggunakan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) menunjukkan dinamika berbeda. Secara nominal tumbuh moderat 4,11 persen (yoy), namun dari sisi volume justru mengalami penurunan 2,96 persen (yoy) pada periode yang sama.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, penggunaan uang kartal belum sepenuhnya tergantikan. Pada kuartal III 2025, tercatat posisi net outflow sebesar Rp1,51 triliun. Nilai uang kartal yang masuk (inflow) ke Bank Indonesia sebesar Rp2,46 triliun, sedangkan yang diedarkan ke masyarakat (outflow) mencapai Rp3,96 triliun.
Bank Indonesia menilai kondisi net outflow tersebut sejalan dengan pola konsumsi masyarakat yang tetap memanfaatkan uang tunai untuk berbagai kebutuhan transaksi harian. (RIL/SON)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















