Pranala.co, BALIKPAPAN — Antisipasi maraknya peredaran beras oplosan, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Balikpapan bersama Satgas Pangan kembali melakukan inspeksi ke sejumlah distributor dan pasar, untuk memastikan ketersediaan, keterjangkauan harga, serta kualitas beras yang beredar di masyarakat.
Kepala Disdag Balikpapan, Haemusri Umar, menuturkan, hasil inspeksi lapangan yang dilakukan bersama Satgas Pangan menunjukkan bahwa kondisi ketersediaan dan harga beras saat ini masih dalam kategori aman.
“Ini kami lakukan untuk memastikan kebutuhan beras masyarakat tetap terjaga, baik dari sisi ketersediaan maupun keterjangkauan harganya. Verifikasi sudah dilakukan di beberapa titik dan alhamdulillah sesuai ketentuan yang berlaku,” ungkap Haemusri, Kamis (24/7).
Di satu sisi, untuk fungsi pengawasan terkait mutu beras memang menjadi ranah Dinas Ketahanan Pangan. Namun, untuk aspek distribusi dan harga, itu menjadi tanggung jawab Dinas Perdagangan.
“Tapi, pengawasan ini tetap kami lakukan rutin setiap akhir bulan. Jadi ini sudah menjadi agenda tetap bagi kami,” katanya.
Lebih lanjut, Haemusri juga menyoroti potensi penyimpangan dalam distribusi beras, khususnya di tingkat pengecer.
Menurutnya, beras premium lebih rawan disalahgunakan oleh oknum pelaku usaha karena memiliki nilai jual tinggi.
“Dari produsen ke konsumen, jalur distribusinya beragam. Bisa saja ada permainan di tingkat pengecer. Nah, ini yang kami antisipasi agar tidak terjadi praktik oplosan,” jelasnya.
Menurut dia, kalau secara teknis, pencampuran beras masih diperbolehkan jika kualitasnya sama. Misalnya, beras premium dicampur dengan beras premium yang memenuhi syarat kadar air dan tingkat pecahan sesuai aturan.
“Tapi kalau premium dicampur dengan medium, itu sudah pelanggaran. Itu yang tidak boleh,” tegas Haemusri.
Pengawasan juga dilakukan secara kolaborasi antara Dinas Perdagangan dengan Satgas Pangan dan sejauh ini telah berjalan baik.
Karena, Kata Haemusri, Pemerintah pusat juga mendorong agar pengawasan pangan terus diperkuat lintas instansi, baik di tingkat kota maupun provinsi.
“Sekarang kami memang fokus ke pengawasan beras. Karena secara nasional juga sedang jadi perhatian akibat maraknya temuan beras oplosan di berbagai daerah,” ucapnya.
Haemusri mengimbau seluruh distributor, khususnya yang menyalurkan beras ke pasar-pasar, agar lebih memperhatikan kualitas produk dan akurasi timbangan.
“Ini bukan hanya soal pengawasan, tapi juga soal kepercayaan. Jika kualitas beras dijaga dan timbangan sesuai, konsumen pun tidak dirugikan, dan distributor juga tidak terkena sanksi,” pungkasnya.
















