Pranala.co, BONTANG — Mimpi itu berawal dari dua program studi. Sederhana. Jauh dari bayangan menjadi universitas.
Namun dua dekade berlalu, Sekolah Tinggi Ilmu Teknik (STITEK) Bontang kini berada di persimpangan penting. Yayasan Pendidikan Bessai Berinta (YPBB) menargetkan perubahan status STITEK menjadi universitas pada 2025–2026.
Ketua Pembina YPBB, Yhenda Permana, menuturkan perjalanan panjang itu dimulai sejak yayasan berdiri pada 2003. Dua tahun kemudian, STITEK resmi beroperasi dengan dua program studi.
Waktu berjalan. Komitmen dijaga. Kampus pun tumbuh perlahan.
“Alhamdulillah, dari dua program studi awal, kini kami memiliki lima program studi. Bahkan sudah ada tujuh program studi yang mendapatkan persetujuan,” ujar Yhenda, Kamis (18/12/2025).
Awalnya, target perubahan status dipasang pada 2030. Angka itu kini direvisi. Lebih cepat. Lebih dekat.
Dorongan kuat datang dari berbagai pihak. Terutama Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti).
“Kami dimotivasi untuk bisa menjadi universitas lebih cepat. Targetnya 2025 atau 2026,” kata Yhenda.
Secara administratif, langkah STITEK kian mantap. Rekomendasi dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XI sudah dikantongi.
Dukungan pemerintah daerah juga menjadi harapan besar. Terutama dari Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, beserta jajaran.
Meski begitu, Yhenda tak menutup mata terhadap keterbatasan. Hingga kini, aktivitas perkuliahan masih berlangsung di gedung sewaan.
Kondisi itu diakui bukan ideal. Namun tidak menghalangi roda akademik.
“Dengan menyewa gedung, alhamdulillah operasional tetap berjalan. Tapi tentu kami bercita-cita memiliki kampus utama yang representatif dan membanggakan,” ujarnya.
Bagi YPBB, perubahan status bukan sekadar formalitas. Yang dibidik adalah kualitas. Daya saing. Dan kepercayaan publik.
Universitas yang lahir dari STITEK kelak diharapkan diminati luas. Bukan hanya oleh masyarakat Bontang atau Kalimantan Timur. Tapi juga Kalimantan secara umum, bahkan Indonesia bagian timur.
“Kami ingin lulusan mengasah ilmu di sini. Lalu kembali mengabdi. Untuk Bontang, Kalimantan Timur, Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri,” kata Yhenda.
Kunci utama ada pada sumber daya manusia. YPBB berharap dukungan beasiswa studi lanjut S2 dan S3 bagi para dosen.
Kehadiran dosen bergelar doktor dinilai krusial. Menjadi syarat penting membangun perguruan tinggi unggul dan berakreditasi baik.
Selain itu, percepatan penerbitan Surat Keputusan bagi program studi yang telah disetujui juga sangat dibutuhkan. Jika semua berjalan lancar, jumlah program studi ditargetkan bertambah menjadi 10 setelah resmi berstatus universitas.
Di sisi lain, sarana dan prasarana masih perlu pembenahan. Fasilitas kampus dinilai masih sederhana. Perlu peningkatan. Termasuk pelatihan pemanfaatan sarana agar proses pembelajaran semakin optimal.
“Ini bukan hanya mimpi pengelola. Ini harapan bersama pembina, pengurus, dosen, dan mahasiswa,” tutup Yhenda.
Transformasi STITEK Bontang pun menjadi gambaran bahwa konsistensi, kolaborasi, dan dukungan berbagai pihak mampu membawa sebuah institusi pendidikan melangkah lebih jauh. Demi masa depan generasi muda. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















