Pranala.co, SANGATTA — Kemenangan Persikutim United atas Persebata Lembata dalam laga playoff degradasi PNPM Liga 3 Nusantara sejatinya menjadi napas panjang bagi tim berjuluk Singa Mose. Namun, euforia bertahan di kompetisi nasional itu mendadak meredup setelah mencuat isu dugaan pengaturan skor yang menyeret nama sejumlah pemain.
Persikutim memastikan tempatnya tetap di Liga 3 setelah menaklukkan Persebata Lembata dengan skor 2-0 di Stadion Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Solo, Senin (2/2/2026). Dua gol penentu kemenangan dicetak Johan Yoga Utama pada menit ke-53 dan Dicky Kurniawan pada masa tambahan waktu.
Laga tersebut merupakan pertandingan hidup-mati bagi kedua tim. Kekalahan berarti degradasi. Namun, beberapa jam setelah peluit panjang dibunyikan, sebuah video yang diunggah kapten Persebata Lembata, Denys Domaking, memantik kontroversi luas di jagat sepak bola nasional.
Dalam video yang beredar di media sosial, Denys terlihat menerima panggilan telepon dari seorang pria yang identitasnya belum diketahui. Percakapan itu diduga berisi upaya penyuapan untuk mengatur hasil pertandingan. Denys dengan tegas membantah keterlibatannya dan menyebut rekaman itu justru dibuat sebagai bentuk perlawanan terhadap praktik kotor di sepak bola.
“Saya sengaja meminta rekan setim merekam pembicaraan itu sebagai bukti. Kalau saya terlibat, untuk apa saya membuka ini ke publik?” kata Denys dalam klarifikasinya.
Isu semakin melebar setelah nama pemain senior Persikutim, Fandy Eko Utomo, turut disebut-sebut dalam percakapan tersebut. Merasa dirugikan, Fandy Eko langsung menyampaikan bantahan terbuka melalui akun media sosial pribadinya.
Ia menegaskan tidak mengetahui, apalagi terlibat, dalam dugaan praktik pengaturan skor. Fandy juga menjelaskan bahwa dirinya bukan kapten tim dalam laga tersebut dan telah ditarik keluar sebelum gol atau penalti tercipta.
“Ini fitnah yang mencederai nama baik saya. Saya mencari nafkah dengan cara yang halal dan tidak pernah terlibat kerja sama kecurangan dalam bentuk apa pun,” tulis Fandy.
Bantahan serupa disampaikan pemain Persebata Lembata, Rizky Juang, yang namanya juga disebut-sebut sebagai perantara. Rizky mengakui sempat dihubungi pihak tak dikenal, namun menegaskan telah menolak tawaran tersebut dan menyatakan kesiapannya jika dimintai keterangan oleh aparat berwenang.
Di sisi lain, manajemen Persikutim memilih bersikap tenang. Ketua Umum Persikutim United, Pandi Widiarto, menegaskan bahwa isu yang beredar merupakan persoalan individu dan tidak berkaitan dengan kebijakan maupun arahan resmi klub.
“Kami menghormati klarifikasi dari para pemain yang namanya disebut. Ini bukan urusan ofisial klub. Kami berharap publik tetap berpikir jernih dan tidak menarik kesimpulan prematur,” ujar Pandi saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.
Pandi menegaskan, manajemen Persikutim berkomitmen membangun klub secara profesional dan berkelanjutan. Evaluasi menyeluruh terhadap skuad akan tetap dilakukan, termasuk dalam proses seleksi pemain ke depan.
Menurutnya, kerja sama jangka panjang dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur tetap menjadi fondasi utama pembinaan sepak bola daerah, dengan tujuan mencetak sumber daya manusia yang mampu bersaing di level nasional.
“Saat ini tim memasuki masa jeda kompetisi. Kami fokus pada evaluasi dan persiapan menyongsong musim baru dengan tata kelola yang lebih profesional,” tutupnya. (HAF)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















