Pranala.co, BONTANG – Kemunculan buaya di sejumlah wilayah pesisir Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) diperkirakan akan semakin sering terjadi. Salah satu penyebab utamanya diduga karena keberadaan sumber makanan yang mudah ditemukan di sekitar permukiman warga, terutama limbah ikan yang dibuang ke laut.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Bontang, Amiluddin, menjelaskan bahwa buaya memiliki kemampuan penciuman yang sangat tajam. Bau limbah ikan yang terbawa arus laut dapat dengan mudah terdeteksi oleh predator tersebut sehingga menariknya mendekati kawasan yang berdekatan dengan aktivitas manusia.
“Buaya memiliki penciuman yang sangat kuat. Jika ada limbah ikan dibuang ke laut, bau tersebut bisa menarik buaya untuk datang,” ujar Amiluddin.
Selain faktor makanan, tingginya kemampuan reproduksi buaya juga berpotensi membuat populasinya terus meningkat. Dalam satu kali masa bertelur, seekor induk buaya mampu menghasilkan sekitar 30 butir telur.
Jika sebagian besar telur tersebut menetas dan anak buaya mampu bertahan hidup, maka jumlah populasi di suatu wilayah dapat meningkat dalam waktu relatif cepat.
“Kalau ada yang menyebut di Loktuan sekitar 50 ekor buaya, menurut saya jumlah itu masih kecil. Karena satu induk saja bisa menghasilkan sekitar 30 telur,” jelasnya.
Ia menambahkan, tingkat kelangsungan hidup anak buaya juga tergolong tinggi. Induk buaya dikenal memiliki naluri menjaga yang kuat terhadap anak-anaknya hingga mampu bertahan hidup secara mandiri di alam liar.
Habitat Alami Masih Mendukung
Potensi peningkatan populasi buaya di perairan pesisir Bontang juga didukung oleh keberadaan habitat alami yang masih tersedia. Beberapa kawasan seperti hutan mangrove, muara sungai, dan perairan yang relatif tenang menjadi lingkungan ideal bagi buaya untuk berkembang biak.
Berdasarkan data Disdamkartan Bontang, sepanjang 2025 tercatat sebanyak 25 laporan penampakan buaya di berbagai wilayah pesisir kota.
Dari jumlah tersebut, petugas berhasil mengevakuasi 10 ekor buaya, sementara sisanya tidak tertangani karena hewan tersebut kembali masuk ke perairan sebelum proses penangkapan dapat dilakukan.
“Sebagian berhasil kami tangkap, tapi banyak juga yang lolos karena langsung kembali ke air,” kata Amiluddin.
Lok Tuan hingga Tanjung Limau jadi Titik Rawan
Beberapa wilayah yang paling sering dilaporkan menjadi lokasi kemunculan buaya antara lain Loktuan, Selambai, dan Tanjung Limau. Kawasan tersebut berada dekat dengan habitat alami buaya, seperti hutan mangrove dan muara sungai.
Selain itu, berkurangnya habitat alami akibat aktivitas manusia juga diduga turut mendorong buaya semakin sering muncul di kawasan pesisir yang berdekatan dengan permukiman warga.
Untuk meningkatkan keselamatan petugas sekaligus efektivitas penanganan di lapangan, Disdamkartan Bontang mengusulkan pengadaan senapan bius.
Peralatan tersebut dinilai dapat membantu proses evakuasi buaya dari jarak yang lebih aman.
Selama ini, petugas hanya melakukan penangkapan ketika kondisi memungkinkan, misalnya saat air laut surut atau ketika buaya terjebak di lokasi sempit.
“Kalau di air kami tidak berani mendekat karena risikonya sangat besar. Dengan senapan bius, penanganan bisa dilakukan dari jarak jauh dan tentu lebih aman bagi petugas,” tegasnya.
Amiluddin juga mengimbau masyarakat pesisir untuk tidak membuang limbah ikan secara sembarangan ke laut. Kebiasaan tersebut berpotensi menarik buaya mendekati kawasan permukiman.
Selain itu, warga diingatkan agar selalu waspada ketika beraktivitas di sekitar perairan guna meminimalkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar.
“Sebenarnya kembali lagi bagaimana perilaku masyarakat,” pungkasnya. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















