Pranala.co, BALIKPAPAN — Satu lagi tonggak penting berhasil dicapai Proyek Strategis Nasional (PSN) Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan dan Lawe-Lawe.
Serangkaian fasilitas utilitas pendukung unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) kini resmi memasuki fase operasi awal. Langkah ini menjadi tanda kesiapan menuju pengoperasian penuh kilang modern berstandar internasional.
Vice President Legal & Relation PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB), Asep Sulaeman, menyebut pencapaian ini sangat krusial. Menurutnya, sistem utilitas yang telah melewati tahap commissioning dan start-up mencakup pengolahan air laut (Sea Water Reverse Osmosis/SWRO), pengolahan air payau (Brackish Water Reverse Osmosis/BWRO), menara pendingin (Cooling Tower), serta sistem udara bertekanan (Instrument Air dan Plant Air).
“Melalui fasilitas ini, kami memastikan suplai air dan udara berjalan stabil agar seluruh proses kilang beroperasi efisien dan aman,” ujar Asep, Selasa (28/10/2025).
Sistem Sea Water Intake (SWI) dilengkapi tiga unit pompa berkapasitas total 22.500 meter kubik per jam yang menyalurkan air laut menuju lima unit SWRO berkapasitas 4.115 m³/jam.
Teknologi osmosis balik ini mengubah air laut menjadi air tawar berkualitas tinggi dengan menyaring garam, logam berat, hingga partikel halus.
Selain itu, sistem BWRO berkapasitas 3.500 m³/jam juga berperan mengolah air payau menjadi air tawar standar industri. Air hasil pengolahan ini digunakan untuk sistem pendinginan dan bahan baku ketel uap di kilang.
Dengan konfigurasi sistem ini, RDMP Balikpapan kini tercatat sebagai kilang dengan kapasitas pengolahan air terbesar di Indonesia. Artinya, kilang dapat memenuhi kebutuhan air prosesnya secara mandiri tanpa bergantung pada sumber luar.
“Pencapaian ini menunjukkan kesiapan sistem pendukung sebelum memasuki tahap start-up unit utama RFCC,” tegas Asep.
Dalam menjaga kestabilan suhu operasional, proyek ini mengintegrasikan dua menara pendingin. Masing-masing memiliki konfigurasi berbeda: tujuh sel dengan kapasitas total 29.999 m³/jam, dan sepuluh sel lainnya berkapasitas 47.800 m³/jam.
Air yang telah didinginkan kemudian disirkulasikan kembali ke unit proses seperti heat exchanger dan kompresor. Tujuannya, menjaga efisiensi energi dan mencegah overheating peralatan.
Di sisi lain, sistem Instrument Air dan Plant Air menjadi tulang punggung sistem otomasi. Udara bertekanan stabil digunakan untuk mengoperasikan katup otomatis dan sistem kendali terdistribusi (Distributed Control System).
Tanpa suplai udara yang stabil, presisi dan keamanan operasi tidak akan terjamin. Seluruh fasilitas utilitas ini dikendalikan dari Utilities Control Room (UCR).
Di ruangan inilah operator memantau seluruh sistem secara real-time. Jika ada anomali atau gangguan, tim dapat segera mengambil tindakan korektif.
“Beroperasinya sistem utilitas ini menjadi fase penting menuju operasi penuh proyek RDMP Balikpapan. Kami memastikan semua sistem terintegrasi dan siap mendukung tahap selanjutnya,” jelas Asep.
Keberhasilan ini tak sekadar pencapaian teknis. Integrasi sistem utilitas menjadi fondasi penting bagi program modernisasi kilang nasional yang dijalankan Pertamina.
“Capaian ini memperkuat kesiapan RDMP Balikpapan untuk beroperasi optimal sekaligus meningkatkan kapasitas produksi BBM dan non-BBM nasional,” tegas dia. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami



















