Pranala.co, BALIKPAPAN – Ketergantungan Kota Balikpapan terhadap pasokan pangan dari luar daerah masih sangat tinggi. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan lahan sawah produktif yang siap ditanami, yang saat ini hanya sekitar 40 hektare.
Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) terus berupaya memperkuat sektor pertanian di tengah keterbatasan tersebut.
Kepala DKP3 Balikpapan, Sri Wahyuningsih mengatakan, untuk petani di Balikpapan masih ada yang tersebar di beberapa wilayah. Yaitu Balikpapan Timur, Balikpapan Utara, Balikpapan Barat, Balikpapan Selatan hingga Balikpapan Tengah.
Meski begitu, Balikpapan hanya memiliki lahan pertanian yang cukup terbatas. Alhasil produksi pangan lokal belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. “Karena lahan sawah kita memang terbatas,” ucap Sri, Senin (9/3/2026).
Di memaparkan, saat ini total lahan yang masuk dalam kawasan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) di Balikpapan mencapai sekitar 98 hektare. Beberapa lahan sudah siap ditanami karena telah memiliki pematang sawah dan infrastruktur dasar.
Kendati begitu, masih ada beberapa lahan dengan vegetasi lebat sehingga belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan pertanian.
“Jadi, yang sudah siap ditanami sekitar 40 hektare. Sisanya sekitar 58 hektare masih berupa vegetasi berat, sehingga perlu dilakukan penataan secara bertahap,” ungkapnya.
Sri melanjutkan, sebagai upaya meningkatkan kapasitas produksi pertanian, pemerintah kota berencana melakukan rehabilitasi lahan sawah yang sudah ada. Langkah ini berbeda dengan program cetak sawah baru.
Untuk rehabilitasi tersebut dilakukan pada lahan yang sebelumnya sudah berfungsi sebagai sawah namun membutuhkan perbaikan agar kembali produktif. “Sementara yang kita rencanakan lebih ke rehabilitasi lahan yang sudah ada,” tutur Sri.
Tentu, kata dia, dengan keterbatasan lahan pertanian di Balikpapan berdampak pada tingginya ketergantungan terhadap pasokan pangan dari daerah lain. Ia menyebut sekitar 90 persen kebutuhan pangan masyarakat masih dipenuhi dari luar daerah.
Terlebih, untuk komoditas seperti beras sangat tinggi. “Kalau beras, ketergantungan kita bisa dibilang hampir 100 persen dari daerah lain,” sebutnya.
Di samping itu, mengenai produksi padi dari lahan sawah yang ada di Balikpapan selama ini umumnya hanya mencukupi kebutuhan petani sendiri. Karena, hasil panen juga dijual kepada Perum Bulog untuk memperkuat cadangan pangan pemerintah.
Selain itu, saat ini pemerintah telah memberikan jaminan harga gabah sekitar Rp6.500 per kilogram, yang dinilai membantu petani menjaga stabilitas harga hasil panen. “Petani biasanya senang kalau gabahnya dibeli Bulog karena ada kepastian harga,” ujar Sri.
Meski lahan terbatas, Pemkot Balikpapan tetap berupaya memperkuat sektor pertanian melalui pendampingan petani dan optimalisasi lahan guna mendukung ketahanan pangan daerah. (SR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















