WHO: Seperti HIV, Covid-19 Mungkin Tak Akan Pernah Musnah

  • Whatsapp
Ilustrasi virus Korona (Istimewa.)

DUNIA mempertanyakan kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. Kurva kasus di sejumlah negara masih cenderung fluktuatif. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa Covid-19 kemungkinan akan selalu ada dan tidak bisa hilang, layaknya HIV.

WHO mengatakan pada hari Rabu (13/5) bahwa segala upaya terus dilakukan untuk memprediksi berapa lama virus itu akan terus beredar. “Virus ini mungkin hanya menjadi virus endemik lain di komunitas, dan virus ini mungkin tidak akan pernah hilang,” kata Pakar Kedaruratan WHO Mike Ryan dalam briefing online seperti dilansir dari AsiaOne, Kamis (14/5).

Bacaan Lainnya

“Saya pikir penting bagi kita untuk realistis dan saya kira siapa pun tak dapat memprediksi kapan penyakit ini akan hilang. Tidak ada tanggal pasti. Penyakit ini mungkin menjadi masalah yang panjang, atau mungkin tidak,” tambah Mike Ryan.

Namun, ia mengatakan dunia memiliki kendali atas bagaimana dapat mengatasi penyakit itu, meskipun ini akan membutuhkan upaya besar. Bahkan jika sekalipun vaksin ditemukan.

Lebih dari 100 vaksin potensial sedang dikembangkan, termasuk beberapa dalam uji klinis. Para ahli kesulitan menemukan vaksin yang efektif. Ryan mengatakan kontrol yang sangat signifikan dari virus diperlukan untuk menurunkan risiko. Risiko tetap tinggi di tingkat nasional, regional dan global.

Direktur jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menambahkan semua warga dunia wajib berkontribusi untuk menghentikan pandemi ini. Pemerintah di seluruh dunia sedang berjuang dengan pertanyaan tentang bagaimana membuka kembali ekonomi mereka sambil mengandung virus, yang telah menginfeksi hampir 4,3 juta orang, menurut penghitungan Reuters, dan menyebabkan lebih dari 291.000 kematian.

Uni Eropa mendorong pembukaan kembali secara bertahap perbatasan di dalam blok yang telah ditutup oleh pandemi, sambil tetap menjaga orang tetap aman. Tetapi, para ahli kesehatan masyarakat mengatakan kebijakan melonggarkan pembatasan harus sangat hati-hati untuk menghindari wabah gelombang baru. WHO menilai membuka perbatasan darat lebih berisiko daripada mengurangi perjalanan udara.

Sebelumnya, Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus juga mengatakan bahwa virus corona (COVID-19) akan bertahan lama dan tak bisa berakhir dalam waktu dekat. Hal ini lantaran adanya tren kenaikan infeksi yang mengkhawatirkan di beberapa negara di dunia, bahkan ada yang baru memasuki fase awal pandemi.

Menurut Ghebreyesus, sebagian besar negara di dunia masih berada dalam tahap awal pandemi, sementara beberapa negara lainnya mulai bangkit dari wabah ini. Hal tersebut lah yang membuat Tedros menyebut virus corona masih akan bertahan lama.

“Sebagian besar negara masih dalam tahap awal dan beberapa yang terdampak awal pandemi mulai melihat kebangkitan dalam kasus-kasus,” kata Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam pernyataan resminya bulan April lalu.

Tedros juga mengakui bahwa tindakan pembatasan sosial dan karantina wilayah atau lockdown telah membantu menekan penularan virus di banyak negara. Kendati demikian, Dirjen WHO itu menilai penanganan pandemi COVID-19 masih harus menempuh jalan panjang.

Ia lantas memperingatkan negara-negara yang mulai mencabut lockdown dan membuka kembali perekonomian. Menurutnya, pemerintah tak boleh gegabah lantaran virus ini terus bermutasi. “Jangan salah. Kita masih harus menempuh jalan panjang. Virus ini akan bersama kita untuk waktu yang lama,” ujarnya.

Tedros Adhanom Ghebreyesus juga menganjurkan agar negara-negara di seluruh dunia terus berinvestasi dalam meningkatkan sistem antisipasi serta penanganan masing-masing. Sebab WHO menilai sejauh ini hanya 76 persen negara di dunia yang memiliki sistem pengawasan untuk mendeteksi virus. “Masih ada banyak celah di pertahanan dunia dan tidak ada satu pun negara yang memiliki segalanya,” tuturnya menambahkan.

Saat ini, terdapat lebih dari 4,4 juta kasus COVID-19 di seluruh dunia. Korban meninggal akibat virus tersebut telah melampaui angka 298 ribu jiwa, dengan pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 1,6 juta. (*/js/JP)

Pos terkait