Wali Kota Neni: Jangan Ada Stigma Negatif Pasien Covid-19!

Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni semprot rumah ibadah dengan cairan disinfektan. (Foto: Humas Pemkot Bontang)

SEJAK mewabah pertama kali di Wuhan Ibu Kota Provinsi Hubei, China pada Desember 2019, virus corona (COVID-19) telah menyebar di 201 negara, termasuk Kota Bontang. Tercatat per Senin (27/4) pukul 14.00 Wita ada 9 kasus terkonfirmasi positif dan sembuh 1 orang.

Pandemi virus corona ini telah melahirkan stigma atau pandangan negatif di tengah-tengah masyarakat, khususnya bagi orang yang dinyatakan positif wabah penyakit tersebut karena mereka (masyarakat) takut tertular.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tidak memberikan perlakuan yang buruk terhadap tenaga medis yang merawat pasien corona, karena meraka adalah garis terdepan dalam penanganan wabah ini.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menilai stigma negatif terhadap pasien Covid-19 membuat warga berpotensi terjangkit malah enggan melaporkan diri. Orang enggan memeriksakan diri. Membuat orang kabur saat akan diperiksa, diobati, atau dikarantina. Hal ini memperbesar risiko penularan di masyarakat.

Neni menegaskan bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh virus. Maka dari itu, pasien yang terjangkit tidak ada hubungannya dengan perilaku negatif. “Penyakit ini disebabkan oleh virus dan tidak ada hubungannya dengan perilaku yang negatif. Jadi saudara-saudara kita yang terkena itu yang harus dibantu dan yang terkena juga harus tahu diri bahwa mereka bukan korban dari kegiatan yang negatif,” lanjut dia.

Dia pun meminta masyarakat tetap tenang dan waspada. Ia juga menekankan pentingnya menghindari kontak dengan menjaga jarak satu sama lain atau social distancing. Perlu kerja sama seluruh pihak agar pandemi ini segera berakhir. Salah satunya dengan melaporkan diri, isolasi, jaga jarak, hindari keramaian, dan memakai masker. Masyarakat juga mesti jujur menjawab pertanyaan dokter atau tim medis.

Neni berujar, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan agar masyarakat berhati-hati terhadap setiap istilah yang beredar. Seperti istilah “Virus Wuhan”, “Virus Cina”, “Virus Asia,” atau istilah lain yang menunjukkan identitas tertentu. Istilah-istilah tersebut bisa menimbulkan arti dan stigma negatif terhadap orang-orang tertentu.

Selain itu, stigma bisa menimbulkan stereotip dan asumsi. Stereotip ini bisa memperluas ketakutan dan merendahkan seseorang yang telah terpapar virus corona. Pada tingkat yang lebih parah, stigma bisa membuat seseorang menghindari pertolongan, pemeriksaan, pengujian, ataupun karantina.

Agar kita tidak mudah memberi stigma

a. Gunakan fakta. Stigma bisa menyebar karena pengetahuan yang rendah mengenai corona. Sebarkan fakta mengenai cara penularan, cara mencegah dan cara mengatasi corona. Termasuk opsi perawatan dan informasi kesehatan yang bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat, seperti melalui sosial media.

b. Dengarkan tokoh masyarakat yang bisa mengarahkan. Seperti memberi dukungan atau memberi pesan untuk tidak melakukan pembiaran stigma sesuai dengan keadaan geografis dan budaya setempat.

c. Perkuat suara dan cerita mengenai orang-orang yang telah sembuh dari corona. Tindakan ini juga turut mengapresiasi para petugas kesehatan yang telah berjuang.

d. Pastikan bahwa gambaran tentang corona berbeda dengan etnis tertentu. Dengan kata lain, format penggambaran harus netral dan tidak menunjuk etnis tertentu.

e. Perhatikan etika jurnalisme. Laporan berita yang hanya fokus pada perilaku seseorang yang telalh terdeteksi virus malah akan menambah stigma. Beberapa media juga pernah berspekulasi tentang sumber COVID-1 untuk menelusuri pasien pertama di sebuah negara.

f. Bentuk kelompok atau aliansi untuk membuat gerakan melawan stigma. Lingkungan yang positif menunjukkan kepedulian dan empati untuk seluruh kalangan. (*)

More Stories
Pembongkaran Rumah di Sungai Karang Mumus Dilanjutkan usai Iduladha