VoB: Kami Bosan Jilbab dan Metal Dipersoalkan

Firda Kurnia (vokalis dan gitaris), Euis Siti Aisyah (drummer) dan Widi Rahmawati (basis) saat sesi foto di salah satu studio musik di Jakarta Selatan, pada Rabu siang (9/9/2020). Wisnu Agung/Lokadata.id

SECARA kolektif, Firda Kurnia (vokalis dan gitaris), Euis Siti Aisyah (drummer) dan Widi Rahmawati (basis) punya karakter sama: pemalu tapi pemberontak. Mereka ini berteman sejak masih kecil dan itu mendasari semua yang mereka lakukan. Bikin grup musik hingga mengkritik sistem sekolah yang tidak adil lewat mading.

Nama grup mereka adalah Voice of Baceprot (VoB). Grup metal yang dibentuk pada 2014, yang berasal dari Singajaya, Garut Selatan, sebuah desa yang dikelilingi bukit layaknya perkampungan Galia di komik Asterix.

VoB sekarang telah masyhur dan mendapat pengakuan di skena musik cadas. Mereka kemudian diliput media lokal dan juga internasional. Tapi, popularitas mereka membawa teror dan ancaman karena dianggap tidak Islami dan mengusung musik setan.

“Di kampung itu gitar sudah identik dengan pengangguran, rokok dan minuman keras. Pokoknya gitar itu berarti pergaulan yang kacau,” kata Firda saat wawancara dengan Heru Triyono dan fotografer Wisnu Agung di salah satu studio musik di Jakarta Selatan, belum lama ini.

Kami bertemu mereka di suatu siang yang panas dan banyak bicara tentang pemberontakan di sekolah hingga andil besar Ersa Satia atau akrab disapa Abah, notabene guru bimbingan konseling di sekolah mereka.

Selama satu jam mereka menggambarkan perasaan terpinggirkan bahkan di lingkungan terdekat. Mereka menjawab semua pertanyaan itu dengan tawa alih-alih sinis sembari menggoda satu sama lain dengan lelucon Sunda. “Eh kamu itu kelihatan korong-nya (upilnya),” kata Widi kepada Siti terkekeh. Berikut tanya jawabnya:

Apa yang terjadi pada masa kecil kalian sehingga punya “jiwa pemberontak”—yang sering dikaitkan dengan jiwa musik metal?
Firda: Mungkin karena keadaan ya. Dari rumah ke sekolah itu bisa 1,5 jam lho kalau jalan kaki. Jadi, kadang aku telat sampai sekolah. Nah, seringnya itu aku bareng guru yang datangnya juga telat. Anehnya guru itu gak dihukum jalan bebek kayak aku. Mereka bisa langsung masuk kantor. Dari situ aku bercita-cita jadi guru. Soalnya enak, melanggar tapi enggak dihukum. Ha-ha.

Siti: Kadang kita juga disuruh kumpulin semut yang masih hidup. Jumlahnya harus pas: 20 semut. Jadi, semutnya itu di tangan kiri. Tangan kanannya sambil hormat.

Widi: Ada juga hukuman dasi ditaliin ke motor yang didorong oleh teman. Dasi siswa yang dihukum itu ditarik-tarik keliling lapangan. Ha-ha.

Hukuman itu menurut kalian tidak adil?
Firda: Menurut aku sih enggak. Makanya, hukuman itu kita kritik di mading sekolah. Tapi, baru dimuat pagi, tulisan itu sudah gak ada saat jam istirahat. Setelah bikin kritik itu biasanya kita dipanggil ke ruang guru. Ya sudah, kita bikin tulisan lagi tentang bagaimana kita dipanggil guru. Ha-ha. Tapi ya kemudian hilang lagi.

Kalau menulis kritik di mading itu anonim kan, kok bisa ketahuan?
Firda: Biasanya kan di kelas ada “anak baik” gitu ya. Dia dipanggil oleh guru, lalu ditanyain dan interogasi. Ketahuan deh kita.

Apakah kritik itu tidak bisa disampaikan langsung ke pihak sekolah?
Firda: Sudah juga. Saat dihukum telat kan aku juga mempertanyakan. Kenapa guru yang telat itu tidak kena hukum kayak aku. Jawabannya ya gitu, aku malah dituduh mengalihkan pembicaraan dan dianggap gak sopan. Kalau protes, hukumannya malah nambah.

Memangnya tidak ada angkutan umum ya dari rumah menuju sekolah, kenapa harus jalan kaki?
Firda: Ada ojek. Cuma ojeknya gak mau kalau narik anak sekolah. Ongkosnya terlalu murah. Cuma dua ribu. Minimal itu harus berdua kalau naik. Tapi kan aku pake rok yah. Gak mungkin duduk menghadap depan berduaan gitu. Sempit dan rawan jatuhJalannya terjal.

Karena sering dipanggil ke ruang guru itulah kalian sering bertemu Cep Ersa Ekasusila Satia?
Firda: Iya. Kalau dipanggil pihak sekolah, biasanya Abah Ersa yang menangani. Dia kan guru bimbingan konseling. Dari konseling itu, Abah minta kita gabung ke ekstra-kulikuler teater. Enak sih kalau Abah. Dia enggak menasihati kenapa kita bandel. Enggak. Malah kita dikasih gorengan sama teh manis. Enak.

Siti: Terus pendekatan Abah itu lebih kayak curhat dan ngobrol. Jadi kita enggak malu.

Memangnya enggak takut dengan guru dan institusi sekolah. Kalau nilainya jelek bagaimana?
Firda: Ngapain takut. He-he.

Siti: Kalau aku sih memang gak suka sekolah. Nilai mata pelajaran juga jelek-jelek. Ha-ha. Bahasa Inggris doang bagus. Itu juga kayaknya kebetulan.

Widi: Kita sering diancam sih kalau bandel terus. Misalnya pihak sekolah gak akan kasih nilai bagus atau akan dikeluarkan dari sekolah.

Apa yang kalian lakukan menyikapi ancaman itu?
Firda: Kalau aku gak mau diam dan terima. Mau sampai kapan diam terus. Kalau besarnya nilai itu bukan karena anak itu bisa, tapi karena dekat sama guru, kan gak adil.

Bagaimana menjelaskan benang merahnya, antara karakter kalian yang baceprot (berisik) dan kritis, dengan lingkungan keluarga yang agamais?
Firda: Lingkungan aku memang agamis banget. Salat dan mengaji adalah keharusan. Sampai sekarang kita pun masih melakukan itu meski main musik metal. Gak masalah. Tapi, aku memang juga gak punya banyak teman. Dari SD ya temannya Siti ini saja. Karena aku tuh sulit bergaul. Kaku dan cuek.

Siti: Iya. Aku sama Firda ini teman deket sejak SD. Kalau sama Widi baru ketemu saat SMP. Kalau di kampung kita ini enggak punya teman. Sedih banget. Aku juga minder orangnya. Suka gak percaya diri. Tapi rajin bolos sekolah. Ha-ha.

Widi: Hampir sama. Aku itu pemalu dan pendiam. Sampai sekarang juga begitu. Enggak punya banyak teman. Paling sama mereka (Firda dan Siti) saja nih yang agak gila.

Kalian mendengarkan genre musik yang sama sebelum terbentuknya Voice of Baceprot?
Firda: Aku sih pendengar musik musiman ya. Misalnya lagi musim Coboy Junior, ya aku dengerin itu.

Firda Kurnia (vokalis dan gitaris), Euis Siti Aisyah (drummer) dan Widi Rahmawati (basis) saat sesi foto di salah satu studio musik di Jakarta Selatan, pada Rabu siang (9/9/2020). Wisnu Agung/Lokadata.id

Siti: Waktu itu aku suka Cherrybelle dan Lady Gaga. Linkin Park juga suka.

Jadi, mendengar dan memainkan musik-musik metal itu dipengaruhi oleh Abah Ersa?
Firda: Awalnya itu bukan begitu. Kita kan masuk teater tapi ingin bikin drama musikal. Kita coba main alat musik. Lalu belajar deh dari Abah kunci dasar dan sisanya belajar dari YouTube. Tapi bukan aktingnya yang nempel di kita, malah musiknya.

Siti: Kalau di teater mah kita dimarahin terus. Karena enggak bisa akting. Ha-ha.

Widi: Aktingnya jelek banget pokoknya mah. Ya karena menonjol di musik, ya akhirnya kita main musik dan ikut festival gitu.

Sedari awal komposisinya memang Firda pegang gitar, Widi bas dan Siti drum?
Firda: Enggak. Widi itu awalnya gitar, lalu dia coba main bas. Pertama kali perform on stage itu di acara 17 Agustusan. Kita bawain lagu “Bendera” dan “Tanah Air”. Berasa keren. Tapi pas dengar sekarang, garing banget. Ha-ha.

Kalau Siti memang dari awal pegang drum?
Siti: Aku itu belajar drum pakai drum marching band yang dirakit mirip drum gitu lah. Posisinya beda. Jadi, bass drum di tangan kiri dan snare di tangan kanan. Nah, pas dibeliin drum baru, malah enggak mau. Nangis aku. Konyol banget. Karena sudah terbiasa yang drum rakitan itu.

Widi: Kita itu belajar musik sekitar tahun 2014. Satu tahun langsung bisa main alat.

Maksudnya belajar di sini adalah belajar musik metal ya?
Firda: Sebenarnya memilih musik metal itu setelah VoB personelnya tinggal bertiga. Karena selama VoB bertujuh, yang empat enggak bisa ngejar musik kita yang keras. Enggak nyambung jadinya. Akhirnya kita memutuskan bertiga pada tahun 2016.

Total personel Voice of Baceprot pada awal pembentukan itu ada berapa?
Firda: Ada 15. Tapi singkatan VoB-nya belum Voice of Baceprot. Masih Voice of Baqitoz, yang isinya pelajar-pelajar SMP yang bersekolah di MTs al Baqiyatussolihat, yang disingkat Baqitoz.

Siti: Sebenarnya pakai nama Baqitoz biar diizinin saja sama sekolah kalau ikut festival. Ha-ha.

Bagaimana ceritanya dari 15 orang itu—mengerucut jadi tiga?
Firda: Dari 15 itu kan terseleksi sendiri jadi tujuh orang. Tapi da, sejak isinya 15 orang juga kita memang terus bertiga aja kalau ke mana-mana. Enggak tahu. Pokoknya apa-apa bertiga aja.

Personel yang lain tidak masalah, apalagi tahu kalau VoB sekarang terkenal?
Firda: Ha-ha. Bagaimana tuh. Enggak kepikiran ke situ ya. Sebenarnya, kalau ada event, suka kita ajak, tapi sama orangtuanya enggak diizinin. Ya sudah akhirnya kita yang berangkat bertiga sama Abah.

Siti: Tapi teman-teman yang lain biasa saja. Malah mereka ikut komentar di status medsos kita dan mendukung.

Kalian juga awalnya tidak diizinin kan ikut festival musik metal?
Firda: Kalau aku bilangnya ada kegiatan pramuka aja. Kalau jujur, gak akan boleh. Malah diomelin sama mama. Mama merasa malu kalau aku main musik metal dan bawa-bawa gitar ke rumah. Ya sudah. Besok-besoknya, aku bilang saja ada kegiatan pramuka. Ha-ha.

Kenapa bawa gitar ke rumah saja menjadi hal yang memalukan di sana?
Firda: Karena image. Di kampung itu bawa gitar identik dengan pengangguran, rokok dan minuman keras semacam es batu. Ha-ha. Pokoknya gitar itu berarti pergaulan yang kacau.

Kalian tahu penyebab image gitar dan musik metal sampai sedemikian buruk di sana?
Firda: Awal image itu sebenarnya bukan datang dari orang tua. Tapi para tetangga yang membentuknya begitu. Ha-ha. Malah aku sampai dapat teror surat kaleng dan lemparan batu di rumah.

Surat kaleng itu isinya apa?
Firda: Ada kata-kata kasar gitu lah. Kayak fuck you atau anjing. Tapi kalau kata kasar sebenarnya aku biasa saja. Sehari-hari pun denger itu. Aku lebih serem yang nyumpahin lewat surat dengan bahasa Sunda seperti: kamu tuh cantik, tapi sayang umurnya enggak panjang.

Menurut kalian, kultur di tempat kalian memang tidak menerima musik metal?
Firda: Mungkin di sana masih bener-bener konservatif ya. Image musik itu sudah jelek. Bukan hanya metal sih. Kakak aku itu penyanyi dangdut dan mendapat perlakuan yang sama. Dia sering dapat pelecehan. Sepertinya orang tua aku trauma, karena anak-anaknya jadi omongan orang. Mungkin ya.

Kalian tidak masalah jadi pergunjingan orang?
Firda: Kita sih cuek dan menikmati orang ngomongin kita. Kayak dianggap tidak baik karena anak gadis pulang jam 4 sore, ya jadi hal biasa. Padahal kita pulang sore karena latihan–setelah belajar di sekolah.

Oke. Bagaimana pada akhirnya keluarga menerima pilihan kalian sebagai musisi?
Widi: Mereka itu menerima karena melihat bukti.

Siti: Iya bener.

Firda: Makanya, enggak usah dijelasin ke mereka. Malah susah. Mereka akan lihat sendiri kita itu bisa bawa banyak piala untuk sekolah dan bisa masuk televisi.

Prestasi-prestasi itu cukup menjawab keresahan mereka atas profesi kalian?
Siti: Mereka jadi baik sendiri setelah kita masuk televisi. Malah banyak yang ngaku-ngaku jadi kakek dan bibi kita. Tiba-tiba aja begitu. Ha-ha.

Oh ukuran mereka itu adalah televisi ya sebagai tolak ukur prestasi?
Firda: Orang tua kita seperti itu. Pokoknya band yang sukses adalah yang tampil di televisi. Kalau gak masuk televisi ya enggak sukses. Gitu.

Siti: Pokoknya masuk berita di televisi. Berita apa saja, kriminal sekalipun. Ha-ha. Itu jadi pamor untuk orang tua. Bahkan bisa nobar satu kampung melihat kita di televisi.

Apresiasi terhadap VoB banyak datang dari dalam dan luar negeri. Di antaranya Flea, basis Red Hot Chili Peppers (RHCP). Apresiasi ini jadi beban?
Firda: Di satu sisi senang, di sisi lain ya jadi beban. Ekspektasi orang kepada kita jadi tinggi. Makanya, banyak yang memuji, banyak juga yang benci.

Iya, kritik yang datang itu kan performa kalian di panggung dan video berbeda…
Firda: Kita sih memilih mana kritik yang perlu dijawab. Kadang begitu-begitu saja kritiknya. Kita sih tipe yang enggak banyak nanggepin. Kita lebih suka fokus latihan saja biar mainnya semakin rapi.

Sampai pada titik ini, apa definisi musik metal bagi kalian?
Firda: Bagi kita metal ya sebagai genre musik dan sebagai jalan hidup. Metal ini kita anggap ruang berkarya dan tempat menyampaikan sesuatu yang ingin kita sampein.

Ada banyak wadah lain kan selain musik untuk menyampaikan pesan itu…
Firda: Iya sih. Tapi kalau aku menulis di mading atau di buku, bisa dengan mudah dirobek orang. Kejadian di sekolah itu aku inget sampai sekarang. Tapi kalau bikin lagu, maka orang bakal inget sampai kapanpun. Meski lagu itu enggak laku, tapi kan jejaknya tetap ada.

Sepertinya waktu di sekolah kalian seperti public enemy ya?
Firda:
 Ha-ha. Mungkin kayak gitu. Soalnya beli seblak aja di luar gerbang sekolah kita dipanggil ke ruang BK (bimbingan konseling). Padahal kan makanan ya sesuai selera. Kalau kita enggak selera sama makanan di kantin bagaimana dong?

Siti: Makanya kita sampai pindah sekolah saat SMK. Itu terjadi setelah kita tampil di Hitam Putih, dan sekolah sepertinya agak ribet untuk memberi kita izin ikut festival atau manggung di televisi.

Kabarnya saat pindah sekolah sampai bakar seragam segala?
Firda: Aduh. Enggak lah. Itu brutal. Sebenarnya lebih ke ribetnya izin dari sekolah saja. Kita sih enggak apa-apa sering dipanggil ke ruang BK tiap hari. Cuma orang tua kan pasti keberatan.

Soal penamaan kata baceprot, apakah sebelumnya ada nama lain yang jadi kandidat?
Firda: Dari awal sebenarnya sudah fix Voice of Baceprot. Cuma kan kita enggak pakai dulu dan memilih nama Baqitoz agar diizinkan sekolah untuk ikut festival. Setelah masuk SMK, baru kita pakai nama baceprot.

Sebenarnya kalian nyaman tidak sih dengan banyaknya media asing yang tertarik mengait-ngaitkan antara jilbab dan musik metal?
Firda: Kita sih main musik ya main musik saja. Kalaupun kita enggak bermusik, ya kita tetap berhijab. Kita ingin orang melihat musiknya, bukan jilbabnya. Kita kadang bosan jilbab dan musik metal terus dipersoalkan.

Tapi harus diakui kan kalian muncul ke permukaan karena kontradiksi itu…
Firda: Kita ini main band, bukan fashion show. Dari awal kita bukan mau iklan penampilan, kesannya jadi gak objektif. Makanya kita tuh sekarang mati-matian latihan buat meningkatkan skill, bukan penampilan.

Apa kisah kalian yang paling diingat ketika masa-masa awal dulu membangun VoB?
Firda: Banyak ya. Kita itu selalu bela-belain gak jajan kalau mau ikut festival di kota. Kita mati-matian ngakalin bagaimana uang kita harus cukup buat pulang dan pergi. Caranya adalah kita menabung, bawa bekal makan dan pake seragam sekolah agar ongkos lebih murah ke kota.

Siti: Pokoknya kerja keras buat balik modal deh. Masalahnya kalau enggak menang, kita enggak bisa pulang. Makanya suka kecewa kalau menangnya cuma juara favorit. Karena cuma dapat piagam sama piala. Ha-ha.

Kalau menang festival musik, dapat berapa memang?
Firda: Mulai dari Rp300 ribu sampai Rp400 ribu. Kalau enggak menang ya enggak pulang. Nginep di rumah adiknya Abah di Garut kota. Besoknya pinjam duit Abah, terus balik deh.

Kalian merasa kalau jadi musisi itu menjanjikan untuk masa depan?
Firda: Sejauh ini sih kita merasa terbantu banget secara ekonomi. Karena sejak SMK kita sudah gak minta bantuan orang tua lagi untuk bayar-bayar.

Siti: Iya. Sekolah sudah biaya sendiri. Uang masuk SMK itu sekitar Rp1,2 juta, termasuk uang ujian, kita bayar sendiri juga.

Siapa sih fan kalian, anak muda juga atau malah orang tua. Kalian tahu?
Firda: Pendengar kita itu malah banyak bapak-bapak dan ibu-ibu. Ada juga sih seumuran kita.

Kiblat musik metal yang kalian usung itu ke mana. Rage Against The Machine?
Firda: Beda-beda ya. Kalau aku itu memang Rage Against The Machine.

Siti: Aku suka Dream Theater.

Widi: Aku itu suka System of a Down.

Banyak perbedaan referensi gini dan kalian masih muda, apakah sering terjadi perang dingin?
Firda: Sampai saat ini sudah 13 lagu yang kita buat. Ya pertengkaran saat proses pembuatan sering terjadi. Ada yang merasa gak kebagian part. Seperti Siti merasa kurang di bagian drum atau Widi yang merasa kurang mendapat part di bas. Itu hal biasa.

Siti: Tapi kita sebenarnya posesif banget satu sama lain. Sebangku sama orang lain saja di kelas, yang lain bisa marah. Ha-ha.

Widi: Kadang bertengkarnya masalah sepele. Menunggu salah satu yang belum datang ke kantin. Kita menahan lapar. Gitu sih.

Apa ambisi kalian yang belum tercapai?
Firda: Kita ingin keliling dunia dengan membawa musik kita. Ada tawaran manggung sih dari luar negeri, cuma belum ada kesempatan saja untuk ikut.

Saat ini tinggal di Jakarta dalam rangka persiapan membuat album?
Firda: Insya Allah. Kita belum bisa bicara banyak.

Btw, kalian memakai gitar Ibanez, itu milik sendiri?
Firda: Bukan, ini dipinjemin sama Aki Baron. Ha-ha.

[Sumber: lokadata.id]

More Stories
Bontang Laik Terapkan New Normal? Waspada Bayang-Bayang OTG